Merasakan Perbedaan Geografis Swedia

Di balik keindahan foto-foto mahasiswa kuliah di luar negeri, realitanya bahwa hidup mereka di belakang layar adalah sebuah proses yang sulit dan melelahkan. Jangankan beradaptasi dengan sistem pendidikan yang ada di negeri tujuan yang katanya: Indonesia perlu 128 tahun untuk sejajar pendidikannya dengan negara maju. Tapi beradaptasi dengan lingkungan cuaca di kota tujuan belajar pun bagi beberapa orang adalah sangat sulit misal winter blues.

Dalam rangkaian jejak tuts ini, saya tidak akan membahas bagian kesulitan itu tentang sistem pendidikan. Saya hanya menulis yang paling dasar yaitu kondisi kuliah secara perbedaan geografis di luar negeri khususnya di Scandinavia. Nah,  tulisan ini hadir supaya teman-teman bisa merasakan apa yang dialami mahasiswa yang kuliah pada saat tiba atau bisa jadi persiapan mental fisik sebelum ke eropa atau kuliah khususnya di Swedia, apapun tujuannya; mau dalam rangka menjelajah, bertualang, kuliah, delegasi. 
Malmo dikala musim panas dengan biru langitnya.
Jetlag

Hal pertama yang terjadi pertama kali datang adalah jetlag karena saya tiba pada saat siang hari wkt setempat sementara di Indonesia seharusnya sudah maghrib. Apalagi kedatangan saya langsung dilanjutkan silaturahmi dengan mahasiswa periode sebelumnya untuk santapan sore. Anehnya saya dilanda rasa ngantuk yang sangat berat hingga tertidur. Perbedaan waktunya yaitu 7 jam, jadi kala sore ngumpul-ngumpul itu seharusnya jam tidur di Indonesia.  Apabila punya agenda ke Eropa, sebaiknya jadwalkan pesawat tiba pada saat jam biologis anda di Indonesia dimana Anda seharusnya masih melek agar bisa tidur pulas di pesawat sebelum tiba di negara tujuan. Ups apalagi nanti jadi delegasi negara pas sampai kerjanya tidur doang karena tidak ada persiapan, ya mau gak mau setidaknya datang lebih awal. Gak mau kan jadi delegasi yang rentang staynya seminggu jetlagnya selama tiga hari kecuali kalau sudah terbiasa. 


Puasa


Tantangan terberat bagi umat muslim di Eropa terutama Eropa Utara yang dekat kutub adalah puasa. Hal ini dikarenakan bulan puasa selalu bersamaan dengan musim panas. As you know, musim panas adalah musim dimana waktu siang lebih panjang daripada malam. Waktu puasa di Swedia bisa hingga 20 jam. Bayangin imsaknya misal jam 3 subuh, buka puasa baru jam 10 malam shalat dan tarwih selesai jam 1, tiba di rumah jam 1.30 langsung masak. Jam 2 sahur. Taraa.. imsak lagi jam 3. 

Masalah bolongnya puasa itu urusan pribadi ya :D. Gak usah diurai disini. 
Suhu yang rendah

Sebagai negara yang dekat dari kutub. Temperaturnya tentu lebih rendah. Saat musim dingin suhu mencapai sekitar 6 derajat hingga -10 derajat. Sayangnya meski dingin, karena kota tempat tinggal saya dekat laut jadinya salju jarang nongol. Malah kadang langit sangat cerah tanpa awan. Kadang tiba-tiba hujan es. Saljunya kehempas angin kali ya ama mencair duluan klo mendarat. Selain itu, anginnya kencang. Serasa buka kulkas yang berisi kipas angin gede dan kencang. Jangan gundah, kata org di Malmo "there is no such thing bad weather, only bad clothes". Long john solusinya yaitu semacam baju lengan panjang, modelnnya kayak legging dan berada pada lapisan pertama sebelum pakai pakaian utama dan jaket. Lumayan lah bikin hangat asal gak nyari kehangatan di luar wkwk. Biasanya sih kalau musim dingin minimal pakai empat lapis. Satu lagi tentang heran, bakal sering ingusan terus campur bercak darah. Itu hal yang wajar kadang. Dingin itu serba gak enak, termasuk perasaan kita terhadap cuaca seperti saat ini yaitu musim dingin. Dengan sedikitnya sinar matahari maka kita akan merasa Gloomy, payahnya lagi bisa kena Winter Blue.  Perasaan ini dialami bagi yang merasa sangat sensitif dengan pergantian musim. Hal ini terjadi karena rendahnya suhu dan sedikit sinar matahari. Ini wajar bagi pelajar dari negara tropis yang datang ke daerah dingin. Salah satu yang bisa mengobati adalah dengan minum vitamin D. Ini sangat bermanfaat dan saran saya ketika sinar matahari bersinar maka keluarlah untuk menikmatinya. Uppss kalau salju turun, tunggu apalagi hayo abadikan. This is winter. 

Kering
Di daerah yang memiliki empat musim ini. Kelembaban udara sangat rendah, sehingga kulit sangat kering dan bila tdk pakai pelembab maka akan terlihat bersisik. Khusus muka saya yang berminyak, disini sangat bermanfaat jadi saya gak mesti pakai pelembab wajah. Kalau di Indonesia kan dengan jenis kulit seperti ini sangat mudah dihinggapi jerawat apalagi dipadu dengan paparan sinar matahari. Besok biasanya langsung jerawatan. Keuntungan kedua adalah makanan yang mengandung air gak cepat basi. Kalau nyimpan nasi di rice cooker tanpa dipanasin terus bisa bertahan hingga tiga hari dan terlihat masih segar. Kerupuk juga gak melempem dan bisa bertahan berhari-hari di wadah yang terbuka. Cuma jangan sampai nyimpan roti sembarangan karena bakal kering dan keras wkwkw. 
Kamar saya 503 langsung terpapar sinar matahari dari pagi hingga malam apabila musim panas dan gelap dari pagi hinggal malam apabila musim dingin. Bisa dibayangkan lah saat musim panas, jam tidur tapi masih ada matahari. 


Matahari selalu berada di sekitar bagian Selatan
Jangan kira matahari terbit dari timur ke barat. Posisi Swedia berada dekat kutub utara dan matahari akan selalu terlihat di bagian selatan. Di bagian selatan aja terus pindah dikit dari tenggara ke barat daya. Jadi ceritanya, kamar saya yang menghadap ke selatan sehingga mulai dari matahari terbit hingga terbenam akan kelihatan si Sun

Intinya beradaptasi di negeri jauh ini lumayan menantang. Apalagi di musim dingin errrkkk. Salju aja yang bikin bahagia liatnya. 

Lebih kurangnya kayak data dibawah ini pas lagi winter:
Sunrise     : 8.25
Sunset      : 4.09
Chance of Snow: 50% 
Humidity : 93%
Wind        : E 13 kph
Temperature: -5 ˚C
Precipitation: 0.1 cm
Pressure    : 1019 hPa

'1. Jet lag adalah perasaan kelelahan dan kebingungan (confusion) setelah perjalanan udara (pesawat terbang) yang panjang, sebagai akibat dari ketidakmampuan tubuh dalam menyesuaikan diri dengan zona waktu yang baru. Jet lag dapat mengganggu pola tidur seseorang dan membuatnya merasa mengantuk dan lesu (kurang energi).

Marine Environment Management: Lack of Scientific Evidence is a Threat

“You should write and publish more”. This is what I say to myself when realize that I am not good enough and not really appropriate to show scientific evidence for discussion which I had done for researching and protecting marine environment especially in coral triangle area from anthropogenic impacts. My activities are mostly based scientific and sustainable development (ecological and socio-economic aspects) by empowering local communities. 

Lack of scientific evidence is not only a threat ref to the environment but also to the socio-economical impact. I appreciate people working as field workers. However, lack of publicity in the national and international stage is a threat for both ecology and socio-economical impact due to insufficient information regarding actual impacts, pressures, and responses.

They need some protections (Source: National Geographic, 2016)
It can be said that it is all about marine environmental management. Pseudo-scientist, for instance, will make unsuitable management concept for the marine environment or people who do not understand the local area well or even never come to the location directly for instance. As a result, the engagement between stakeholders including scientists, local people, policy-makers to understand marine environment complexity are difficult to be connected. In my point of view, people working in the field tend to understand more the process of human interaction and marine habitat. Moreover, people who have the background for special education related to marine environment will be excellent.  Furthermore, it is all in audio-visual approvement without written evidence which is weaknesses for some people.


There are many scientists, activists, organizations, and universities that I know in Indonesia who have been doing a lot of marine environmental protection but the eager to publish their article it is such challenging effort. There are several reasons; lack of writing skill especially English, lack of access to the international journal, and lack of confidence. 

Mengawali Musim Dingin dengan Hangatnya Suasana Keluarga Baru

Musim dingin telah tiba dengan ditandainya waktu siang dimundurkan selama satu jam. Dedaunan telah purna tugas untuk bergelantungan pada tuannya, angin tetap seperti biasa meniup menerawang hingga ke ubun-ubun. Keberuntungan menghampiri kami dengan mendapatkan hari yang cerah di awal musim kali ini. Perihal suhu jangan salah tetap dingin dengan suhu sekitar 7oC.  

Bagi mereka yang berkeluarga tentu menghabiskan waktu dengan keluarga di akhir pekan adalah pilihan yang baik. Meski dingin kami juga ingin turut merasakan suasana tersebut dengan menghabiskan waktu dengan keluarga baru kami di sini. Diawali dengan janji pertemuan untuk yang pertama kali bersama Host Family sebulan yang lalu. Hari ini adalah pertemuan yang pertama kali dengan mereka.

Tepat tengah hari setelah menghabiskan waktu sekitar seperempat jam dari Kota Malmo ke Lund, kami bertemu dengan beliau tepat di depan stasiun. Sumringah mereka membuat suasana hari ini terasa semakin cerah. Dilanjutkan sekitar dua puluh menit menuju tempat tinggalnya sambil memperkenalkan kota Lund kepada kami. Mereka tinggal disebuah apartemen di lantai paling atas, dengan dikeliling wallpaper alam nyata dengan pemandangan Lund dan sekitarnya secara langsung. Dipenuhi jendela dari dua sisi yang memang tepat bagi kedua pensiunan ini untuk menikmati sisa waktu mereka. Baginya, menerima mahasiswa sebagai anaknya selama kuliah juga merupakan sebuah pilihan yang baik. Selain karena ingin berbagi kebahagiaan juga karena anak-anaknya sudah tersebar ke berbagai kota seperti Malmo dan Stockholm.

Host Family kami di Swedia (Dari Kiri ke Kanan: Ardi, Ms Joy Pergament, Mr Morris dan saya)
Undangan makan siang ini disiapkan oleh beliau yang telah berusaha memahami budaya kami termasuk agama kami dan perihal yang diharamkan. Termasuk makanan, mereka hampir sama dengan kami yang tidak makan daging bahkan mereka tidak makan kerang dan belut karena beliau adalah kaum beragama yang berbeda dengan kami. Kami bertukar cerita dan mengedepankan sikap toleransi. Mereka yakin bahwa setiap bangsa adalah baik. Tentu ini sangat meningkatkan kadar pembelajaran dan toleransi kami yang menjadi pengalaman berharga dengan berinteraksi langsung dengan mereka.

Kami kemudian melanjutkan perbincangan dengan keluarga masing-masing di Indonesia. Begitu pun cerita keluarga mereka sejak menikah. Di kehidupan beliau, mereka juga terbilang cukup banyak berinteraksi dengan warga muslim di kota ini karena memiliki komunitas. Tujuannya agar dapat hidup dengan rukun bersama sesama penganut beragama lainnya.
Nonton pertandingan Ice Hockkey bersama keluarga baru kami di rantau.


Tiga jam berlalu, kami diantar menuju pertandingan Ice Hockey di Malmo, tempat dimana para cucunya melakukan olahraga es ini. Hari ini kami menikmati pertandingan antara tim Danish dan Skane. Di tempat ini pula, kami dikenalkan dengan salah satu anakya bernama Daniel. Bersama mereka, saya dan Ardi menikmati pertandingan ini yang tergolongan olahraga baru yang kami tahu. 

*Host Family merupakan program kampus World Maritime University bagi mahasiswa yang ingin belajar dan bertukar budaya dengan masyarakat lokal melalui pendekatan keluarga angkat. Program ini berkat kerjasama antara Walikota Kota Malmo dengan kampus kami. Mr. Morris dan Mrs Joy Pargament menjadi orang tua kami selama kuliah disini. Saya dan Ardi adalah yang beruntung menjadi bagian dari cerita mereka selama setahun lebih.