Marine Environment Management: Lack of Scientific Evidence is a Threat

“You should write and publish more”. This is what I say to myself when realize that I am not good enough and not really appropriate to show scientific evidence for discussion which I had done for researching and protecting marine environment especially in coral triangle area from anthropogenic impacts. My activities are mostly based scientific and sustainable development (ecological and socio-economic aspects) by empowering local communities. 

Lack of scientific evidence is not only a threat ref to the environment but also to the socio-economical impact. I appreciate people working as field workers. However, lack of publicity in the national and international stage is a threat for both ecology and socio-economical impact due to insufficient information regarding actual impacts, pressures, and responses.

They need some protections (Source: National Geographic, 2016)
It can be said that it is all about marine environmental management. Pseudo-scientist, for instance, will make unsuitable management concept for the marine environment or people who do not understand the local area well or even never come to the location directly for instance. As a result, the engagement between stakeholders including scientists, local people, policy-makers to understand marine environment complexity are difficult to be connected. In my point of view, people working in the field tend to understand more the process of human interaction and marine habitat. Moreover, people who have the background for special education related to marine environment will be excellent.  Furthermore, it is all in audio-visual approvement without written evidence which is weaknesses for some people.


There are many scientists, activists, organizations, and universities that I know in Indonesia who have been doing a lot of marine environmental protection but the eager to publish their article it is such challenging effort. There are several reasons; lack of writing skill especially English, lack of access to the international journal, and lack of confidence. 

Mengawali Musim Dingin dengan Hangatnya Suasana Keluarga Baru

Musim dingin telah tiba dengan ditandainya waktu siang dimundurkan selama satu jam. Dedaunan telah purna tugas untuk bergelantungan pada tuannya, angin tetap seperti biasa meniup menerawang hingga ke ubun-ubun. Keberuntungan menghampiri kami dengan mendapatkan hari yang cerah di awal musim kali ini. Perihal suhu jangan salah tetap dingin dengan suhu sekitar 7oC.  

Bagi mereka yang berkeluarga tentu menghabiskan waktu dengan keluarga di akhir pekan adalah pilihan yang baik. Meski dingin kami juga ingin turut merasakan suasana tersebut dengan menghabiskan waktu dengan keluarga baru kami di sini. Diawali dengan janji pertemuan untuk yang pertama kali bersama Host Family sebulan yang lalu. Hari ini adalah pertemuan yang pertama kali dengan mereka.

Tepat tengah hari setelah menghabiskan waktu sekitar seperempat jam dari Kota Malmo ke Lund, kami bertemu dengan beliau tepat di depan stasiun. Sumringah mereka membuat suasana hari ini terasa semakin cerah. Dilanjutkan sekitar dua puluh menit menuju tempat tinggalnya sambil memperkenalkan kota Lund kepada kami. Mereka tinggal disebuah apartemen di lantai paling atas, dengan dikeliling wallpaper alam nyata dengan pemandangan Lund dan sekitarnya secara langsung. Dipenuhi jendela dari dua sisi yang memang tepat bagi kedua pensiunan ini untuk menikmati sisa waktu mereka. Baginya, menerima mahasiswa sebagai anaknya selama kuliah juga merupakan sebuah pilihan yang baik. Selain karena ingin berbagi kebahagiaan juga karena anak-anaknya sudah tersebar ke berbagai kota seperti Malmo dan Stockholm.

Host Family kami di Swedia (Dari Kiri ke Kanan: Ardi, Ms Joy Pergament, Mr Morris dan saya)
Undangan makan siang ini disiapkan oleh beliau yang telah berusaha memahami budaya kami termasuk agama kami dan perihal yang diharamkan. Termasuk makanan, mereka hampir sama dengan kami yang tidak makan daging bahkan mereka tidak makan kerang dan belut karena beliau adalah kaum beragama yang berbeda dengan kami. Kami bertukar cerita dan mengedepankan sikap toleransi. Mereka yakin bahwa setiap bangsa adalah baik. Tentu ini sangat meningkatkan kadar pembelajaran dan toleransi kami yang menjadi pengalaman berharga dengan berinteraksi langsung dengan mereka.

Kami kemudian melanjutkan perbincangan dengan keluarga masing-masing di Indonesia. Begitu pun cerita keluarga mereka sejak menikah. Di kehidupan beliau, mereka juga terbilang cukup banyak berinteraksi dengan warga muslim di kota ini karena memiliki komunitas. Tujuannya agar dapat hidup dengan rukun bersama sesama penganut beragama lainnya.
Nonton pertandingan Ice Hockkey bersama keluarga baru kami di rantau.


Tiga jam berlalu, kami diantar menuju pertandingan Ice Hockey di Malmo, tempat dimana para cucunya melakukan olahraga es ini. Hari ini kami menikmati pertandingan antara tim Danish dan Skane. Di tempat ini pula, kami dikenalkan dengan salah satu anakya bernama Daniel. Bersama mereka, saya dan Ardi menikmati pertandingan ini yang tergolongan olahraga baru yang kami tahu. 

*Host Family merupakan program kampus World Maritime University bagi mahasiswa yang ingin belajar dan bertukar budaya dengan masyarakat lokal melalui pendekatan keluarga angkat. Program ini berkat kerjasama antara Walikota Kota Malmo dengan kampus kami. Mr. Morris dan Mrs Joy Pargament menjadi orang tua kami selama kuliah disini. Saya dan Ardi adalah yang beruntung menjadi bagian dari cerita mereka selama setahun lebih.



Sompeq

"Iyapa ulesu mattana ogi, uruntuppi usappae" penggalan lagu ini sangat familiar di tanah bugis dan para perantau bugis di berbagai belahan dunia yang dilatunkan oleh anak dara Andi Tenri Ukke. Lagu ini menceritakan tentang "Sompeq" atau yg dalam bahasa indonesia berarti Rantau. 
Kepada beliau saya banyak belajar.

Sedikit refleksi beberapa tahun yg lalu saat masih balita, saya sangat sering mendengar nomina abstrak ini. Betapa tidak hampir sebagian besar keluarga saya melakukan ini. Tangisan kecil saya tentu menjadi saksi melihat lalu lalang para perantau. Koper, ransel dan bekal ditengah keramaian keluarga orang tua melebur dalam sebuah suasana.
Perpisahan dengan keluarga di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar

20-an tahun berlalu, kini giliran saya melakukan hal itu dengan suasana yang sama. Disekelilingi pandangan dari banyak orang yang berbinar dengan begitu banyak harapan positif. Pamitan dengan orang tua dengan tradisi bugis, berdoa dan kemudian menutup pandangan terakhir dengan melihat atap rumah. Atmosfir itu yang menyokong perjalananku, memberi semangat dan meredupkan segala kegundahan fana. Ini bukan tentang travel sama sekali, ini tentang membuka bab selanjutnya untuk mengukir dan memulai perjuangan baru. Bertahan hidup di waktu dan ruang yang berbeda serta mencoba keluar dari zona nyaman. Selain itu, bukan perihal yang mudah karena biasanya saya meninggalkan rumah beberapa bulan atau paling lama setahun. Kali ini mungkin saja lebih lama daripada itu dengan jarak yang cukup jauh mendekat di kutub utara demi sebuah kata yaitu belajar. 

Acap kali mengunggah foto di sosial media untuk memberi kabar kepada keluarga dan teman-teman sekaligus meredakan kekhwatiran tentang kerasnya kehidupan belajar di negara Scandinavia ini. Saya tau perjalanan ini bukan jaminan oleh-Nya tentang sebuah kesuksesan di mata banyak orang. Saya yakin setiap insan memiliki kadar masing-masing dan tugas masing-masing tentang perihal itu. Hanya berjalan pada jalur yang saya rencanakan dan selebihnya saya kembalikan pada rencana-Nya. 

Sompeki topada sompe, tapada mamminanga tosilabuang...
World Maritime University, Swedia


Salam dari Swedia

Ditulis di kamar 208 A, Henrik Smith Residence (HSR), Malmo. Pukul 4.50, tgl 6 September 2017.