Mengenal Lebih Dekat Kapal Riset Baruna Jaya IV


Sebuah kehormatan karena bisa terhubung langsung dengan Bapak Dr. M. Ilyas, ST, M.Sc, Kepala Balai Teknologi Survey Kelautan. Berkat undangan beliau, saya bersama satu teman bisa hadir dalam Openship Kapal Baruna Jaya IV di Pelindo IV Makassar pada hari Sabtu Tgl 23 September 2016. 
Gambar 1. Kapal Riset Baruna Jaya IV (barunajaya.bppt.go.id, 2016)
Nampak kapal ini ramai oleh kunjungan pemuda-pemudi Makassar termasuk siswa SMA dan mahasiswa berjas merah. Mereka begitu antusias melihat setiap sudut Kapal Baruna Jaya IV yang lebarnya 12.10 meter. Crew kapal juga menjelaskan kepada generasi muda ini mengenai seluk beluk kapal dibawah koordinasi Balai Teknologi Survey Kelautan yang memiliki empat unit kapal. 

Kapal Baruna IV khusus melakukan tugas pengambilan data Oseanografi, EBA dan Perikanan. Kapal yang memiliki GRT 1219 ton ini baru saja bersandar setelah penjelajahannya di Selat Makassar selama 17 hari melakukan riset Stock Assesment. Perjalanan selanjutnya akan dilakukan di perairan Laut Arafuru dan kembali ke Jakarta selama 33 hari. Project ini dilakukan atas kerjasama Balai Teknologi Survey Kelautan, Badan pengkajian dan Penerapan Teknologi dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Gambar 2. Pak Hendar Menjelaskan seputar Kapal Baruna Jaya IV kepada penulis (Photo by Izzah)
Mengawali keingintahuan kami dengan kapal berteknologi ini, kami diperkenalkan dengan Pak Hendar beserta dua temannya yang menjelaskan bagian mesin, penelitian, dan akustik. Kapal ini dilengkapi oleh sistem navigasi radar ARPA X Band Foruno, Fish Finder, dan Riverse Osmosis. Di ruang tengah Forcastle Deck terdapat Scientific Centralizing Room, Chemical Room dan Senior Scientist. Dalam melakukan penelitian, metode yang digunakan adalah Sweep Area. Setelah ikan yang tertangkap total sekitar 400 kg yang diambil sampelnya menggunakan Trawl maka diteruskan untuk diteliti dalam ruangan Scientific Centralizing Room. Beragam sampel ikan saat itu seperti pelagis tuna dan demersal ikan sebelah serta beberapa jenis ikan lainnya. Beberapa data diambil dengan metode otolith (penentuan umur ikan menggunakan tulang otolith), pengukuran ikan, gen, dan sebagainya. Di lantai dua, terdapat ruang akustik. Disini kami dijelaskan mengenai cara kerja akustik yang dimiliki Kapal Baruna Jaya IV menggunakan software Simrad ER60 dan MaxSea. Akustik kapal ini sendiri memiliki frekuensi 38 Hertz dengan jangkauan 3000 meter. Saat pengambilan data maka Crew Akustik harus berbagi waktu untuk terus standby selama 24 jam. Pengambilan data dilakukan saat kapal bergerak kapal dengan kecepatan 5 - 6 knot. Meskipun kami dijelaskan cara kerjanya namun data yang diambil tidak begitu bagus karena posisi kapal yang diam di pelabuhan. Hanya ada informasi kedalaman saat kapal bersandar yaitu 9.72 meter (ini bisa menjadi data primer untuk kedalaman pelabuhan makassar) beserta ukuran ikan yang sedikit sekitar 6 cm. Menurut keterangan petugas, bahwa saat ini tengah memasuki musim timur sehingga jumlah ikan melimpah di Selat Makassar bagian utara.
Gambar 3. Geladak Kapal (Photo by Izzah)
Dari penjelajahan ini diharapkan Indonesia memiliki data mengenai Stock Assestment yang akurat untuk mengetahui daya optimum potensi perikanan laut di perairan nusantara dari tahun sebelumnya dengan stok ikan (MSY) yaitu 9,931 juta ikan yang diperkirakan lebih besar dari sebelumnya. Setelah hal tersebut dipenuhi maka langkah selanjutnya adalah pemanfaatan laut dan penentuan kebijakan laut dibawah Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan bukti ilmiah yang telah direkam oleh Kapal Baruna Jaya. Kebijakan ini bisa terkait dengan pelarangan penangkapan ikan yang berlebih (Overfishing) dan IUU (Illegal, Unregulated and Unreported) Fishing. Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, kita harus bangga bahwa kita memiliki kapal riset sekelas Kapal Baruna Jaya.

#Untuk Indonesia yang Mandiri dan Berdaulat

Elevasi Bumi Massenrempulu


Bumi Massenrempulu merupakan sebutan yang umum untuk Kabupaten Enrekang di Sulawesi-Selatan. Menyebut kabupaten ini maka ada tiga hal yang melekat di benak saya yaitu kopi, atap sulawesi dan tebing tinggi. Kenikmatan kopi Enrekang kali pertama saya coba saat di Desa Bone-Bone yaitu sebuah desa entri point pendakian Pegunungan Latimojong. Kegiatan waktu itu dalam rangka pendidikan kepencintaalaman. Kenikmatan itu sangat terasa dengan menyeduh dan menyambut pagi serta percakapan dimulai dengan masyarakat lokal yang ramah, sementara disekeliling kita bukan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi tetapi tebing-tebing yang terbentuk secara elegan terpatri secara alami seperti Tebing Tontonan dan Tebing Bampuang. Dipojok sebelah utara, Pegunungan Latimojong yang merupakan gunung tertinggi di Sulawesi menunjukkan kegagahannya dengan memperlihatkan liuk punggungan gunung-gunung beserta kemiringannya. Pegunungan ini sering kami sebut sebagai atap Sulawesi karena yang paling tinggi di celebes ini.
Enrekang
Gambar: Pasar Sudu, Kabupaten Enrekang
Kali ini, saya dengan dua teman ke Kabupaten Enrekang untuk #SedekahRombongan. Untuk menuju Kabupaten Enrekang dibutuhkan waktu tempuh selama enam jam dari Makassar. Perjalanan dimulai dari pukul 03.30 dini hari hingga pukul 09.46 pagi. Menyempatkan untuk singgah minum kopi dan sarapan di kota kelahiran B.J Habibie yaitu Kota Pare-Pare. Memasuki Kota Enrekang, kami langsung melanjutkan perjalanan ke salah satu kecamatan yaitu Kecamatan Anggeraja dan melaksanakan ibadah jumat di Mesjid Al-Hikmah, jaraknya sekitar sejam dari Kota Enrekang. Di kecamatan ini pula, kami memanjakan lidah dengan berbagai sajian kuliner di pasar tradisional Sudu.

Makan siang disajikan dengan menu Nasu Cemba. Makanan khas Enrekang ini terbuat dari iga sapi. Hampir mirip dengan Kondro di tanah Bugis-Makassar. Namun, yang membuatnya khas adalah sayur cemba. Dedaunan kecil pelengkap kuliner ini seperti ukuran daun kelor dan sebagian besar lebih kecil lagi. Masih dengan kegiatan yang sama kulineran, Sawella menarik perhatian visual. Makanan kecil ini nampak seperti pentolan namun ukuran bundarnya lebih besar. Rasanya seperti kue teripang di Makassar namun kuantitas parutan kelapa dan balutan karamel gula merahnya lebih banyak. Yang tak kalah unik ketika mengunjungi pasar tradisional di daratan tinggi ini adalah Baje Rappo. Baje sendiri sebenarnya sangat umum di Sulawesi khusunya bugis. Yang membuatnya unik adalah jajanan ini dibungkus daun jagung kering. Satu lagi yang paling terkenal di Enrekang adalah Dangke. Dangke merupakan keju alami yang terbuat dari fermentasi susu dengan berbahan dasar susu kambing, susu sapi atau susu kerbau dan getah pepaya. 

Jejak kemudian disambungkan menuruni elevasi menuju Desa Polai, Kecamatan Malua. Di perjalanan, jendela mobil yang kami kendarai memberi kesan yang elok, pemandangan tebing tontonan memberi nuansa pemandangan khas daerah dengan ketinggian di atas seribu meter. Sebelum mencapai Desa Polai, kami melewati Kecamatan Anggeraja dan Kecamatan Baraka. Di sisi kiri-kanan, hasil panen bawang menggantung di bawah rumah panggung warga karena Kecamatan Malua memang terkenal dengan hasil alamnya yaitu bawang. Jadi, bila pengunjung lupa nama kecamatan yang ia kunjungi maka bisa memperkirakan nama kecamatan bahkan desa dengan penghasilan warga setempat.

Kecamatan Malua dan Kecamatan Anggeraja dikenal sebagai penghasil bawang. Lain halnya dengan Kecamatan Baraka dan Kecamatan Massalle yang ada di Kabupaten Enrekang ini, kedua kecamatan ini  terkenal dengan hasil kopinya dan sebagai tambahan Kecamatan Baraka juga merupakan penghasil beras merah yang tersebar di Sulawesi Selatan. Sementara penghasil sayur di kabupaten ini berada di Kecamatan Baroko dan Kecamatan Alla. Kecamatan Curio sendiri dikenal dengan dua hasil alam yaitu cengkeh dan merica. 






Atmosfir Tiga Suku Serumpun dalam Diskusi Regional ASEAN


Sebuah keberuntungan dan rasa bangga karena bisa bergabung dengan orang-orang hebat terutama dalam pengetahuan sejarah yang semakin hari semakin dianggap lesu akhir-akhir ini. Padahal proklamator, Bung Karno, pernah berpidato mengenai pentingnya sejarah yang diselipkan dalam akronim Jas Merah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah).

Kedatangan saya berawal dari ajakan kak Sudarmono, lulusan S3 Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Bagi beliau, kegiatan ini juga merupakan ajang silaturahmi dengan rekan-rekannya sesama lulusan universitas kebanggaan Negeri Jiran tersebut. Tidak mengherankan bila para audiens yang hadir dengan latar belakang yang sama yaitu lulusan doktoral hingga professor UKM. Hanya saya saja yang kebetulan tiba-tiba nyempil ditengah orang-orang hebat ini dalam diskusi regional ASEAN yang bertajuk "Bugis-Makassar dalam Perspektif Tabayyun Melayu". Kegiatan ini juga diselenggarakan sebagai rangkaian dies natalis salah satu media cetak yang ada di Makassar. 

Gambar 1. Diskusi Regional ASEAN di Graha Pena (Photo by Sudarmono)
Disini  saya belajar banyak mengenai keterkaitan antara tiga suku melanesia serumpun yaitu Bugis-Makassar dengan Melayu. Dijelaskan pula bahwa suku-suku ini merupakan pemberian nama oleh para pendatang dari Eropa atau kita sebut sebagai penjajah dengan senjata khasnya devide et impera untuk memberikan sekat-sekat antar serumpun. Suasana diskusi ini dimulai dengan pembuka oleh moderator, Ruslan Ramli yang juga merupakan lulusan universitas yang sama dengan pembicara pertama yaitu Prof Fauziah Ahmad yang berdialek khas asalnya. Ibu yang datang dari Malaysia bersama suaminya ini menceritakan mengenai Suku Bugis-Makassar di negara tetangga tersebut. Yang paling berkesan dari Prof Fauziah Ahmad adalah penjelasannya bahwa kakek beliau merupakan keturunan Bugis. Baginya keturunan Bugis cenderung sebagai pelaut. Jadi, hal yang wajar pula bila ayahnya sangat menyukai aktivitas melaut bahkan perangai seorang lelaki bugis sempat ia lisankan seperti tinggi, kurus dan agak hitam. Tidak ketinggalan pula, penjelasan oleh Pak Amrullah Amir, seorang dosen Unhas di fakultas ilmu budaya berbagi pengetahuan mengenai Suku Bugis-Makassar yang sudah menjadi multi-etnik. Makassar sebagai kota pelabuhan menjadi alasan pendukung statemen tersebut misalnya orang Melayu memiliki perkampungan di beberapa daerah di Sulawesi-Selatan (Sul-Sel)

Diskusi bernas yang cenderung santai ini semakin beralur, beberapa komentator juga menambahkan pernyataannya seperti diaspora ketiga suku tersebut. Seketika zaman kembali ke sejarah jatuhnya semenanjung melaka sehingga menyebabkan orang-orang melayu ke Kerajaan Siang di Kabupaten Pangkep, Sul-Sel. Kata serapan yang menjadi indikasi sejarah ini adalah Ince dan Ecce yang masing-masing mungkin berasal dari bahasa melayu yaitu Enci dan Ence. Bagi sebagian orang tentunya ketiga suku yang berlatar belakang keislaman ini memiliki cerita yang panjang sehingga turut membangun tamadun atau peradaban dunia. Ditambahkan pula bahwa ketiganya hidup di kawasan produktif yang berarti memiliki banyak potensi pemimpin.  Selain itu, Suku Bugis-Makassar menyebar ke Melayu dengan menggunakan perahu. Banyak penduduk Sabah di Malaysia yang merupakan keturunan Bugis namun tidak pernah menginjakkan kaki di tanah bugis tetapi fasih atau mampu berbicara menggunakan bahasa Bugis atau setidaknya mengerti bahasa Bugis.

Berhubung karena penulis adalah orang yang baru dalam mempelajari sejarah dan sempat menyinggung ekspedisi pelayaran yang kami lakukan ke Australia maka kak Sudarmono dan Pak ustadz Das'ad Latif memberikan waktu untuk menjelaskan pengalaman kami dalam kegiatan skala internasional tersebut pada sesi atau detik-detik terakhir diskusi. Penulis sangat tertarik belajar sejarah terutama pada diaspora Suku Bugis-Makassar karena aktivitas yang suka merantau. Pelajarannya adalah cerita masih panjang dan peradaban akan terus berlangsung. Sebagai bangsa yang besar tentunya kita jangan sekali-kali melupakan sejarah.