Pusara Sang Proklamator Negeri Suarna Dwipa

22:49 Baso Hamdani 0 Comments

Kalimat demi kalimat teruntai dengan sigap melahirkan pernyataan singkat. Keringat dan cucuran darah yang mengalir telah membuahkan hasil, menggetarkan rasa atas tuntutan kembalinya ibu pertiwi selama ratusan tahun. Tetiba, meski disertai kondisi badan yang tidak memungkinkan pernyataan sang proklamator bersama seorang sahabat. 

P R O K L A M A S I

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.



Soekarno/Hatta.,

Pernyataan ini mengabdikan diri dalam secarik kertas biasa bergaris biru, dititah oleh pena yang entah dari mana asalnya. Ditulis oleh seorang proklamator yang tengah mengalami sakit malaria. Kabar baik ini didengungkan sesegera mungkin merasuki gelombang radio di setiap penjuru nusantara.  Diumumkannya bahwa Indonesia adalah bangsa Merdeka.... Merdeka...

Sekiranya itu adalah cuplikan bacaan dan informasi dari pustakawan Koleksi Khusus Bung Karno kala kunjungan saya di Lokasi Makam Bung Karno.

Makam Bung Karno
Gambar 1. Makam Bung Karno

Tepatnya di Kota Blitar, sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur. Kota ini sangat terkenal dengan sebutan kota proklamator yaitu Bung Karno,. Di kota ini terdapat makam beliau, presiden pertama NKRI yang dimakamkan pada tanggal 21 Juni 1970.

Pemakaman yang memiliki luas sekitar 1,8 Ha tersebut  selalu ramai apalagi di akhir pekan. Nampak makam beliau di naungi oleh rumah adat. Pengunjung berdatangan dari berbagai daerah. Mereka biasanya yang dipimpim oleh salah seorang imam.  Selanjutnya, terdapat dua bangunan dua lantai setelah keluar dari pemakaman menuruni tangga, Bangunan tersebut adalah museum dan perpustakaan. 

Di museum, pengunjung bisa melihat koleksi foto dan lukisan Bung Karno serta barang-barang peninggalan beliau. 

Di bangunan yang bersebelahan dengan museum, terdapat  ruangan yang berdinding kaca dengan ratusan kursi hanya diisi olehku yang sedang menikmati perbincangan satu arah oleh tokoh pertama "aku", begitu ia menyebutkan dirinya "Bung Karno" dalam buku bersampul merah terbitan Yayasan Bung Karno. 

Lembaran demi lembaran membawaku dalam masa tempoe doloe.
Merasakan setiap langkah cerita  , membawakanku pada suasana beberapa dekade yang lalu. Ia layak kukatakan nyata, entah bagaimana penulisnya meracik cerita tersebut.
Aku duduk di sudut ruangan yang sepi dan hanya ada dua gadis berhijab di sudut lain.
Meskipun beliau sudah meninggal, namun pengabdian sang Marhaen terhadap bangsa ini tidak akan terlupakan dan pembelajaran bagi generasi muda. Bahkan, ada ratusan orang yang mengais rezeki dengan meramaikan pusat penjualan souvenir bung karno di sekitar makam.

Refleksi

Disaat Indonesia telah merdeka tujuh puluh satu tahun yang lalu, saat ini dengan usia yang masih tergolong muda untuk sebuah negara, Indonesia telah menghadapi berbagai gejolak perjuangan. Negara berkembang ini terus berjalan dan belajar dari masa lalu. Namun, bagaimana setelah perjuangan yang tidak mudah dilakukan tersebut? Korupsi merajalela, narkoba semakin marak bahkan kita terkadang tertindas oleh bangsa lain. Kata pemuda yang konon katanya kekuatannya bisa menggoyahkan seisi bumi bila terdiri dari sepuluh, apakah quote dari Bung Karno tersebut bisa kita capai? Jawaban pemuda apatis akan pasti menjawab tidak. 

Bila saja ada buku bung karno yang memungkinan untuk berkomunikasi dua arah maka akan kusebut:

Bung...

  • Pemudamu tidak lagi memiliki daya juang, toh mereka sudah merdeka.
  • Pemudamu tidak lagi susah-susah menghadapi masalah, karena mereka yakin sebutir pil narkoba bisa menghilangkannya.
  • Mereka tidak lagi suka bergaul dengan tokoh-tokoh sepertimu apalagi mengikuti sejarahmu yang katanya heroik. Mereka yakin mereka akan lebih baik bergaul dengan tokoh-tokoh idamannya di sepanjang bar disertai botolan alkohol. 
  • Mereka lebih baik berfoya-foya merusak alam dan mengabadikannya dalam sosial media.
  • Bahkan pemudamu sekarang memilih dikirim ke Suriah untuk menjadi bagian dari ISIS.
  • Mereka lebih mengikuti nafsunya dengan percaya dengan isu-isu yang tidak tahu dari mana asal usulnya untuk mengadili saudara sendiri. Parahnya lagi mereka seakan kompak dengan media, media membuai, mereka menerima dengan lapang. 
  • Mereka tidak lagi mengenal persatuan, mesti dirimu telah menyematkan Bhineka Tunggal Ika.
  • Mereka tidak sekuat Bung Karno dulu. Selain sudah lemah, mereka juga lebih sulit menghadapi bangsanya sendiri. 


Mereka... Ya.. Mereka... Pemuda yang tidak memiliki jati diri dibalut keegoisan terhadap masa depan mereka sendiri dan terhadap masa depan orang lain yang membutuhkan. Negeri ini sudah tak seindah lagi seperti yang dimaktubkan dalam kitab Ramayana yaitu Negeri Suarna Dwipa. 

Sayang sekali bung, pemudamu sudah berubah.


Maafkan kami...




0 comments: