Memacu Adrenalin bersama Centenarian

02:38 Unknown 0 Comments


Pagi buta saya sudah bangun dengan muka bantal kusut. Hal itu tidak saya permasalahkan untuk mengawal hari lebih cepat. Menunggu waktu pagi memang sesuatu hal yang paling ditunggu kala itu. Betapa tidak, musim sudah masuk pada peralihan musim gugur ke musim dingin. Semalam, saya kesulitan untuk tidur. AC yang mengeluarkan suhu panas sudah saya maksimalkan hingga 26 derajat tapi tak kunjung hangat. Selimut yang dipakai merupakan selimut yang paling tebal selama hidupku. Memakai jaket, celana panjang dan kaos kaki. Masih saja saya harus meringkih kedinginan dan badan terlipat. Dibandingkan tetangga kamar saya yang seorang kakek dengan entengnya hanya bermodal kaos panjang dan celana panjang. Selamat menyambut pagi di Negeri Sakura di sebuah Share House dekat Aidai (Ehime University).

Disini kami tinggal di sebuah rumah yang berkamar-kamar dengan satu dapur, ruang cuci, WC dan ruang tamu milik bersama. Lantai dua dikhususkan untuk perempuan yang masih single, kebetulan waktu itu semua dari Indonesia. Sementara itu, saya tinggal di lantai satu, maklum pada program itu saya sendiri yang ganteng. Tetangga kamar saya seorang kakek yang bekerja sebagai satpam. Kami dekat dengan beliau, biasanya tengah malam dia balik di rumah. Dia menyapa kami seperti ini:
Konbanwa! Mina san chocorettoo...
Selamat malam! Anak-anak semua, ini ada cokelat (begitulah kira-kira artinya).
Makanya kami memanggilnya kakek Konbanwa (Konbanwa dalam bahasa Jepang berarti malam). Kebiasaannya mengagetkan kami di Share House adalah kesukaan Ojiisan (kakek dalam bahasa Jepang) tapi jangan salah dia suka bawa makanan juga buat kami. Hampir dua bulan, kami baru mengetahui bahwa kakek sekamar dengan istrinya yang sudah lanjut usia. Namun, untuk melihatnya sangat sulit. Bahkan selama tiga bulan di Jepang hanya dua kali kami melihatnya. Itupun dengan mengintip sepintas. 
Gambar 1. Nenek sedang Memetik Jeruk (Photo by Irda)
Akhir pekan itu, kami menyelusuri kawasan pesisir di Pulau Shikoku yaitu Ikata, tempat paling terkenal di jepang untuk Jeruk. Jeruk yang berkualitas tak berbiji, manis dan bentuknya sempurna ditanam dengan pola yang alami di pesisir yang berbukit-bukit.  Diantar dengan paman angkat menuju lahan pertanian menggunakan roda empat. Siapa tak sangka kami dibawa ke daerah pertanian yang sangat terjal. Bagi saya mungkin tak masalah tapi tujuh cewek kesana mungkin agak sulit. Beda Indononesia beda Jepang, disini kami tinggal duduk di kereta kecil dan naik bersama layaknya naik roller coaster. Memang cepat, serba mesin dan berteknologi. Di atas bukit, ada empat nenek yang kami temui tengah memanen jeruk. Lahan yang sempit sekitar lima meter lebarnya dan bertangga-tangga. Umur mereka sudah memasuki seratusan begitu keterangannya. Namun, mereka masih menikmati hidup di daerah pertanian. 

Dingin terus mengepul badan kami dan angin semakin kencang. Bergegas kembali karena waktu juga sudah menunjukkan pukul 03.00 sore. Nasib naas yang perlu saya khawatirkan adalah kami naik apa untuk pulang ke rumah. Apakah kami jalan kaki dengan nenek atau menunggu paman menjemput?. Alhasil, keluar pintu gerbang kebun. Ada empat mobil yang parkir dan masing-masing nenek tadi yang mengemudi. Siapa yang tidak kaget, bila jalan yang dilalui curam, berliuk-liuk dan yang mengemudi adalah seorang centenarian (sebutan untuk yang berusia seratus tahun atau lebih). 

Fenomena Centenarian sendiri di Jepang sangat populer. Negara ini meraih tingkat pertama untuk negara yang memiliki angka usia yang lama yaitu 100 tahun. Tahun 2016 sendiri, diperkirakan ada 65.000 orang di Jepang berusia 100 tahun atau lebih (NatGeo, 2016). Disana kami belajar betapa pentingnya generasi muda yang semakin sedikit. Desa-desa semakin tertinggal bahkan abandone (tertinggal) karena kecenderungan pemuda untuk merantau ke kota dan tidak banyak yang menginginkan punya anak. 

0 comments: