Surat untuk Calon Awardee LPDP

13:15 Unknown 7 Comments




Dear Calon Awardee LPDP

Teruntuk sahabat-sahabat di luar sana yang sedang berjuang. Sepucuk surat ini sebagai salah satu dari banyak pertanyaan yang pernah penulis rasakan yang dituangkan dalam deretan huruf.  Pemuda-pemudi yang bermental baja yang tak kenal lelah. Sudah sampai dimana persiapannya untuk menjadi seorang awardee (penerima beasiswa) LPDP? Menantang, melelahkan, butuh waktu lama setelah persiapan, kiri-kanan dalam berorganisasi saat mahasiswa, bahkan tidak sedikit yang butuh pengorbanan. Proses itulah dari beberapa hal yang mampu membawa pada gerbang awardee. Calon awardee tidak sedang berkompetisi untuk mengalahkan yang lain, teman-teman adalah partner sekaligus menjadi saudara untuk saling membangun. Teman-teman hanya perlu mengalahkan diri sendiri. Tidak ada yang mengubah segalanya dan memberimu keberuntungan yang besar kecuali anda sendiri yang telah berusaha. Sebenarnya anda layak, pihak LPDP hanya perlu mengklarifikasi kelayakanmu untuk jalan bersama dengan visinya yaitu Mempersiapkan Pemimpin Bangsa serta Mendorong Inovasi Bagi Indonesia yang Sejahtera, Berkeadilan dan Demokratis.

Perjuangan ini dilakukan untuk masa depan yang lebih baik untuk diri pribadi, keluarga dan bangsa ini. Setiap tetes keringat yang bercucuran, langkah kaki mengurus berkas, tabungan, beban pikiran yang sudah terlewatkan bertahun-tahun atau kisaran empat tahun yang telah dibangun saat masih menyandang status mahasiswa. Itu semua adalah usaha sekaligus doa yang dilakukan. Anda telah menanam atau berinvestasi masa depan sejak dahulu dan sekaranglah saatnya menuai apa yang ditanam. Berikut beberapa penjelasan berdasarkan pengalaman penulis. 

1. Administrasi

Dengan banyaknya berkas-berkas yang harus disiapkan maka mempersiapkannya jauh hari akan menjadi lebih baik. Menyiapkan berkas-berkas tersebut lumayan menguras tenaga dan butuh beberapa hari untuk mengurusnya misalnya paling cepat 5 hari kerja. Daftar berkas yang dibutuhkan tidak perlu ditampilkan di website ini. Secara teknis bisa diunduh petunjuk beasiswa LPDP di official web LPDP dan di website awardee-awardee lainnya. Tidak ada salahnya, bila mendapatkan saran-saran dari awardee LPDP. Cek kembali semua berkas-berkas yang dibutuhkan dan jangan lupa simpan segala berkas aslinya karena nantinya berkas tersebut diklarifikasi. Pesan saya, jangan ada satu berkas yang palsu karena akan merusak akuntabilitasmu nantinya. Tidak sedikit jumlah pelamar beasiswa yang ketahuan memalsukan berkasnya. Selanjutnya Tahap Tes Substansial yang terdiri dari tiga tahap dituangkan dalam poin berikutnya secara berurutan.

2. Essay On The Spot

Lebih baik mandi keringat saat latihan dari pada mandi darah saat perang. Maksudnya, persiapkan baik-baik segala berkas dan pertanyaan yang bakal muncul di tiga tahap penting di bawah ini dan bersantailah pada saat hari H agar pikiran teman-teman tidak terbebani. Agar kesiapan untuk Essay on the Spot, Leaderless Group Discussion (LGD) dan wawancara makin tajam maka latihan dengan calon awardee lainnya terutama teman kelompok yang nantinya sangat membantu. Tidak mesti menonton televisi yang penuh iklan untuk mempelajari isu-isu terkini. Efisiensi waktu dilakukan dengan menyelektif isu terhangat di youtube dan website-website terpercaya. Bagian opini pada koran bisa menjadi rujukan untuk memperkaya kajianmu mengenai sebuah isu agar supaya ide-ide tersebut bisa tertuang dengan baik pada saat tes nantinya. Khusus calon awardee yang memilih untuk kuliah di luar negeri maka pilihannya adalah semua prosesi tersebut harus menggunakan bahasa inggris. Sesi EOTS hampir sama dengan IELST Writing Task 2.

3. Leaderless Group Discussion (LGD)

Poin terpentingnya adalah jangan berusaha untuk menguasai forum. Berikan waktu dan hargai pendapat teman kelompok. Ingat "Leaderless" bukan "Focus (FGD). Hal yang penting setelah leaderless adalah ide. Anda harus terbiasa menyampaikan ide dengan baik. Dari pengalaman penulis melalui tahap ini, peserta yang dinyatakan lulus menurut penilaian saat LGD bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki ide. Hindari menyalin ide orang lain tapi untuk menambahkan atau mempertegas tidak masalah. Buatlah sebuah ide misal salah satu solusi untuk sebuah masalah.  Jaga kekompakan kelompoknya, hubungi mereka dan buat latihan atau sekedar sharing. Agar kesiapanmu untuk LGD, EOTS dan wawancara lebih matang.

4. Wawancara

Hal lain yang lebih penting selanjutnya yaitu tes wawancara. Pastikan bahwa sebagai calon pelamar beasiswa memiliki sebagian besar poin-poin dalam tulisan sebelumnya yaitu "Be a Rich Student". Informasi tambahan bisa dibaca dalam tulisan rekan saya bernama Adlin. Penulis yakin teman-teman bisa lulus di tahap selanjutnya sepanjang  meyakinkan diri bahwa Anda pasti bisa *syarat dan ketentuan berlaku. Yakinkan diri, sehingga pewawancara pun yakin dengan keunggulan yang anda miliki.

Tarif nafas yang dalam dan atur nafas. Bayangkan bila pewawancara adalah orang tua kita yang bertanya mengapa harus lanjut kuliah dan beserta pertanyaan lain. Tidak usah memberatkan diri dengan pikiran negatif bahwa mereka akan menyudutkan pelamar. Pilih dan fokus pada sisi-sisi positifnya pada saat wawancara, Jawablah dengan penuh kejujuran dan dari lubuk hatimu yang paling dalam. Cie...

Bila ada pertanyaan selanjutnya bisa kirim disini. Sampai jumpa di temu alumni keluarga besar LPDP...


Salam Hangat



Baso Hamdani
PK-89 Awardee LPDP


7 comments:

Bekal untuk Berinvestasi Sejak Mahasiswa

12:39 Unknown 6 Comments

Bekal untuk Berinvestasi Sejak Mahasiswa

Mungkin dalam benak kita, seorang mahasiswa yang kaya adalah mahasiswa dengan gadget berteknologi tinggi yang update dan mengendarai sebuah motor sport ala Boy dalam sinetron masa kini. Namun, yang penulis maksud dengan Rich Student adalah mahasiswa yang berpikir untuk berinvestasi agar mendapat keuntungan di kemudian hari atau memiliki persiapan matang sebelum menyelesaikan studinya.

According to Cambridge Dictionary. Invest is to put money, effort, time, etc. into something to make a profit or get an advantage.

Beberapa hari yang lalu, saya kembali mencari beberapa artikel mengenai Financial Freedom. Intinya, uanglah yang bekerja untuk kita. Kaitannya dengan financial freedom dan mahasiswa adalah kamu akan merasakan freedom dari segala kekhwatiran setelah menyandang status sarjana. Baik itu masalah pekerjaan atau hal lain yang akan kamu lakukan setelah itu. Singkatnya, bekal sebelum meraih gelar. Ada poin penting ternyata yang saya dapatkan dan membahasnya terkait kehidupan kemahasiswaan. Secara finansial ada 3 jenis orang yang membedakan yaitu Broke People, Middle People dan Rich People. Dalam tulisan ini, saya menganalogikan Rich People sebagai Rich Student. Yang membedakannya adalah rich student lebih menyukai berinvestasi. Mereka (baca: Rich People atau Rich Student) lebih suka berinvestasi dan kemudian mendapatkan aset yang berpenghasilan per bulan. Sementara yang lain lebih cenderung menghabiskan seluruh uang pada alokasi pengeluaran yang tidak begitu penting seperti gadget yang kemudian tidak begitu mereka perlukan atau seperti Middle People yang hidupnya lebih cenderung menghabiskan gajinya menyicil kredit motor, mobil dll.



Gambar 1. Ilustrasi (basohamdani.com, 2016)

Dalam kehidupan mahasiswa ada beberapa investasi yang tidak semua mesti dilakukan dengan kapital. Investasi-investasi apa yang bisa kamu lakukan saat (atau sesudah menyandang) status mahasiswa, berikut list yang bisa dipertimbangkan:
1.Soft Skill
Soft skill memegang puncak investasi yang mesti dimiliki. Soft skill tersebut seperti integritas dan kejujuran. Jagalah setiap kepercayaan yang orang lain berikan. Bila menanam kepercayaan pada setiap orang maka investasi yang kamu dapatkan ke depan adalah integritas. Hal ini membuat peluang anda lebih besar. Peluang akan menjadi lebih besar pada jejaring yang anda miliki dibandingkan dengan yang lain yang tidak atau kurang memiliki pada posisi ini. 

2. Akademik
Menjadi mahasiswa adalah amanah, salah satunya yang paling penting adalah amanah dari orang tua. Pengeluaran dan waktu yang digunakan cukup besar. Memiliki nilai akademik yang memumpuni merupakan salah satu kriteria pemenuhan hal tersebut.Seorang mahasiswa seharusnya memiliki nilai akademik yang baik dan menguasai apa yang mereka pelajari atau perdalam sesuai jurusan yang diambil kecuali bila kamu memang yakin bahwa kamu memiliki bakat yang mesti kamu perjuangan sehingga bisa menjadi seperti Bill Gates atau Steve Jobs.

Perlu diketahui bahwa kebanyakan seleksi terdiri dari banyak tahap, minimal tahap administrasi dan wawancara. Investasi selanjutnya yang perlu kamu dapatkan adalah pengalaman berorganisasi untuk investasi melewati tahap wawancara. Tahap wawancara merupakan ejakulasi skill dan pengetahuan yang kalian miliki selama mahasiswa yang dituangkan dalam beberapa menit, Hal ini tidak membutuhkan hanya dengan membaca buku yang kamu beli seperti Cara Lulus Wawancara Kerja atau menghafal semua jawaban yang kemungkinan muncul pada saat seleksi wawancara. Nah, perhatikan poin selanjutnya, 

3. Pengalaman Berorganisasi
Anomali pretensi berorganisasi sudah membanjiri atmosfir kampus. Banyak organisasi kemahasiswaan sedang mengeluhkan jumlah generasinya semakin menurun dari tahun ke tahun. Fokusnya mahasiswa pada sisi akademik menjadi faktor terberat dalam kasus ini. Keberlanjutannya semakin terancam dari anomali ini. Kamu juga bisa ikut di organisasi yang sesuai minat dan bakatmu. misalnya menggeluti olahraga favoritmu di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Hitung-hitung kamu juga menjaga kondisi kamu supaya tetap prima dengan rajin berolahraga dan bersosialisai. Siapa yang tahu bila takdir finansial atau profesimu memang pada hobby yang kamu lakukan saat ini. Dengan memiliki pengalaman organisasi, seorang mahasiswa akan terbiasa bersosialisasi dengan banyak orang atau setidaknya bisa bicara di depan umum. Sebagian besar pemimpin lahir dari mahasiswa yang bergelut di organisasi. Bapak proklamator merupakan sosok yang aktif berorganisasi sejak sekolah dan juga  seperti sosok Presiden Jokowi dan Pak Yusuf Kalla.

4. Jejaring
Poin ini juga terkait dengan poin sebelumnya. Perluas jejaring yang kalian miliki. Miliki banyak teman sesuai jurusan, berbeda jurusan, berbeda daerah bahkan negara. Bangun komunikasi yang baik dari mereka. Kalian bisa membangun networking dengan memenuhi poin pertama. Bergabunglah dengan komunitas di sekelilingmu. Mereka terdiri dari beragam latar belakang. Kalau kamu bisa perbanyak teman dari masing-masing jurusan yang berbeda dan berada pada provinsi yang berbeda. Suatu saat entah kalian butuh atau dibutuhkan mereka dan rezeki tidak akan kemana-mana. Memiliki banyak teman juga merupakan rezeki. Jangan lupa keluarga juga merupakan jejaring anda. Jadi, tetap jaga komunikasi dengan mereka.

5. Entrepreneurship
Cobalah memulai usaha atau bisnis kecil-kecil sebagai lahan belajar kalian atau nantinya bakal menjadi pundi-pundi penghasilan besar. Ubahlah bahwa menjadi sarjana tidak mesti harus kerja di perusahaan atau melulu menjadi PNS seperti orang lain idamkan. Semua hal tersebut baik dan akan lebih baik lagi bila kamu bisa menciptakan pekerjaan bagi orang lain. Selain itu, kamu juga bisa bergabung dengan teman-temanmu dengan berinventasi kecil-kecilan pada sebuah usaha yang teman kamu miliki atau orang lain miliki. Merintis usaha memang tidak mudah namun nikmatilah prosesnya. Siapa yang tahu  kamu juga bisa seperti Bu Susi (Menteri Kelautan dan Perikanan) dalam perjuangannya merintis Susi Air.

6. Membaca
Seberapa banyak buku yang telah kamu baca hingga hari ini. Pertanyaan selanjutnya, seberapa berkualitas buku yang anda baca?, Output dari membaca adalah kemampuan untuk menulis. Informasi yang kita dapatkan melalui membaca akan memperkaya tulisan kita. Dengan menulis, kita mampu menghasilkan karya seperti dengan  buku, blog atau website yang bahkan bisa mendulang dollar, mengirim artikel di media cetak atau setidaknya kamu tidak sulit menghadapi skripsimu nantinya dengan terbiasa membaca banyak referensi atau kamu juga bisa ikut lomba karya ilmiah yang dilaksanakan oleh kampusmu. Bahkan kamu berpeluang menyusul prestasi Pramoedya Ananta Toer.


Ditulis di Makassar
Tgl 24 Juli 2019


6 comments: