Merah Putih di Utara Papua

20:35 Unknown 0 Comments

Menjelajah di bagian utara terluar Papua, NKRI, atau bagian timur Samudera Pasifik bukan hal biasa. Menyebut Kepulauan Mapia warga di Biak dan Sorindiweri yaitu kota terdekat dari Kepulauan Mapia akan biasa mendengar kabar ombak yang besar dan jauh. Tidak banyak orang yang ingin ke Kepulauan Mapia dan wajar saja jumlah Kepala Keluarga dari 50 KK yang terdaftar hanya sekitar 20 KK yang ada di Pulau. Generasi muda pun sudah kebanyakan di Kota Biak baik dengan alasan melanjutkan pendidikan mulai SMP maupun alasan kerja. Kepulauan Mapia terdiri dari tiga pulau utama yaitu Pulau Brass, Pulau Fanildo, dan Pulau Pegun. Namun, dari ketiga pulau tersebut yang paling terkenal adalah Pulau Brass. Cobalah sesekali buka di Youtube dan ketik Pulau Brass, yang ada adalah berita betapa susahnya mengakses Pulau yang sejauh 160an Mil dari daratan utama dan karena merupakan pulau terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Negara Palau (Hayo, yang baru tahu tetangga kita ini cepat googling noh).
Perjalanan yang saya tempuh ke pulau ini terusul dari tugas relawan dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan NKRI yang ke 70 dan sekaligus melaksanakan tugas dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pulau Brass merupakan pulau ke-4 yang saya kunjungi selama bertugas. Bagi saya pribadi menginjakkan kaki di Pulau ini bukanlah sebuah kesulitan yang amat sangat, saya bahkan merasakan beberapa kemewahan dan merasakannya setelah tiga bulan bertugas. Kemewahan itu adalah saya bisa melaksanakan shalat jamaah dengan muslim lainnya terutama Marinir yang 100% dari jawa semua plus seorang pengabdi dari sulawesi program kementerian pendidikan, meskipun terkadang saya sering loading kalau percakapan memakai bahasa jawa saja. Orang ketawa saya malah diam gak tahu, gawai pintar saja yang sering menjinakkan otakku dan poin kemewahan kedua adalah saya merasa aman setelah melewati sulitnya mengakses pulau sebelumnya. Pulau ini dijaga oleh TNI AD dan TNI AL dalam hal ini adalah marinir, serta polisi. Coba bandingkan dengan pulau sebelumnya yang saya kunjungi, tak satu pun ada pihak keamanan yang stand by di pulau sebut saja Pulau Rani, Pulau Bepondi dan Pulau Insumbabi dan hanya sebatang kara yang bukan asli papua. Jangan tanya berapa kali saya mendapat ancaman dan kesulitan yang amat sangat bahkan mencapai nadir kematian (haha lebay, tapi serius bro), itu sudah makanan empuk atau jangan-jangan saya yang dijadikan makanan empuk. Selebihnya di Pulau Brass hanya sekedar tambahan poin tapi menurut saya tidak saya golongkan sebagai kemewahan yaitu adanya jaringan seluler plus cuy ada Wifi. Bayangin...Terjauh tapi lengkap. Arkh... rasanya mau tugas di sini terus. Tapi bukan kemewahan atau hal-hal plus lainnya yang saya inginkan, sejak awal saya memilih Papua karena kesulitannya. Ada hal intrinsik yang ingin saya ingin dapatkan, yaitu menyelami kehidupan tanah papua dan berusaha berada ditengah-tengah mereka dan merasakannya serta memanfaatkan ilmu yang saya dapatkan untuk mereka. Istilah lainnya mengabdi. Tau apa saya tentang mengabdi, ribuan tentara secuil pengabdiannya pun tidak sama dengan apa yang saya lakukan dan coba tengok bagaimana Negara memperlakukan mereka yang berjuang mati-matian untuk NKRI. Setidaknya saya sudah bisa mengatakan bahwa Papua adalah bagian Indonesia yang berbeda. Ya, berbeda ... sesekali mungkin saya harus berteriak di telinga para pejabat di kursi panas yang berada di Jakarta untuk turun tangan atau sekedar bertukar pikiran dengan masyarakat disini agar mereka tidak mabuk-mabuk. Atau sekedar mengingatkan kesan keangkuhan daftar nama yang diabadikan dalam ukiran batu yang hanya sebulan berkegiatan dan seakan sudah mengetahui segalanya tentang Pulau Brass. Bukan itu kita pikirkan, saya pun hanya sebulan dan meninggalkan tulisan ini di dunia maya. Tau apa saya.
Rangkaian kegiatan yang kami lakukan adalah kelas inspirasi terumbu karang di sekolah, sosialisasi terumbu karang dan penyu, serta transplantasi karang. Kegiatan ini relawan dan kami sudah melaksanakan maksimal meskipun dengan segala keterbatasan. Misal transplantasi karang yang biasanya dilakukan dengan peralatan pendukung yaitu alat selam, kami melakukan hanya dengan memakai masker to'. Secara prosedur kami lakukan dan puter otak agar sesuai.
Pada hari proklamasi kemerdekaan, kami melaksanakan upacara bendera di depan kantor desa. Pelaksanaan upacara juga mengalami beberapa gladi. Dihadiri oleh seluruh elemen masyarakat atau bisa dibilang semua masyarakat hadir merayakan hari spesial ini. Sangat berkesan, masyarakat ikut upacara dengan pakaian sederhana karena rasa nasionalisme-lah mereka hadir dan saya kira itulah ciri khas masyarakat Pulau Ini.
Oiya satu lagi baru ingat, masyarakat di pulau ini belum saya dengar ada diskusi mengenai "M". Apa itu M? Saya kasi tau ya itu kepanjangan dari Merdeka. Kalau di pulau lain, kita berdiskusi panjang tentang sesuatu dan ujung-ujungnya ke perihal Merdeka.
Lupakan ketika ada masalah itu dan masalah internal di pulau, kita gak usah bahas ya. Sudah biasa. Klo pemirsa belum pernah kesini nanti kalau kesini, ada hal biasa yang menurut kamu tidak biasa, nah itu sudah. Perlu ditegaskan bahwa di Indonesia, kita hidup beragam kalau mengutuk perbedaan berarti anda masih kurang toleransi kalau anda berpendidikan setidaknya perhatikan caption dari Hellen Keller "Toleransi adalah tingkat tertinggi Pendidikan".
Selama di pulau ini, saya merasakan keramahan marinir dan dalam kesempatan ini saya ucapkan terima kasih kepada Bang Sukiro (abang yang bijak dan dituakan), Bang Eko, Bang Rojin, Mas Sony, Mas Joki, Mas Eka (Danton puter XII Pulau Brass) dan Bro Ardi (paling muda di antaranya). Selamat bertugas untuk negara dan semoga ada waktu bertemu lagi. Terima kasih atas segalanya termasuk masuk hutan bak NatGeo dan perjuangan bersama melaksanakan transplantasi karang. Kepada kepala desa Pak William Msen dan keluarga, selamat berjuang pak untuk Pulau Brass. Tuhan akan menjaga niat baik setiap pemimpin.  Semoga ini bukan kunjungan terakhirku di Pulau Brass. Di lain waktu, saya ingin kita semua ngopi bareng.
Tulisan ini saya tulis sambil menunggu kapal yang juga tak kunjung datang padahal ombak semakin kencang dan cuaca semakin buruk. Tulisan ini juga akan saya revisi nantinya.

0 comments: