Suka Duka Umat Muslim di Pengembaraan.

09:41 Unknown 1 Comments

basohamdani.com - Suka duka Umat Muslim di Pengembaraan | Bulan oktober tepatnya tahun 2012 pertama kali saya menginjakkan kaki di negeri matahari terbit atau yang lebih dikenal dengan negeri sakura. Kedatangan kami tidak bertepatan dengan kehadiran bunga sakura yang notabenenya mekar pada musim semi. Kami semua 8 orang dari 3 universitas berbeda dalam rangka pertukaran pelajar SUIJI Program dan rangkaian KKN International angkatan 82 datang pada akhir musim gugur dan awal musim dingin. Sebagai umat muslim kata yang paling kami ingat adalah "Buta" sebutan atau bahasa Jepang untuk daging babi. Kami selalu mengingat huruf kanji babi  dan hafalan kata buta. Bahkan kami selalu menggunakan pada saat makan diluar untuk menanyakan keberadaan daging yang satu ini.
       Makanan halal sangatlah susah didapatkan, di pulau yang kami tempati yaitu shikoku island. Bukan hanya itu sebelumnya saya juga kurang tahu apabila daging ayam ataupun daging sapi yang tidak dipotong secara islami juga dilarang. Untungnya ada teman yang mengingatkan walaupun sempat barbeque-an dengan pelajar jepang namun tanpa babi. Sebagai seorang muslim kami diperkenalkan musholla tempat dimana para umat muslim di kota matsuyama melaksanakan shalat jumat. Saya sempat heran karena sangatlah berbeda dengan di Indonesia, disini kami hanya shalat berjamaah pada mushalla yang notabenenya adalah rumah masyarakat muslim setempat dengan luas tempat untuk berjamaah sekitar 10 x 10 meter.
Saya pun diperkenalkan satu per satu dengan umat muslim dari berbagai ras, ada yang dari timur tengah, afrika dan kebanyakan dari malaysia dan Indonesia. Kebetulan ketua kerukunan islam pada saat itu di Matsuyama adalah orang Indonesia. Program kami memiliki jadwal untuk ke pedesaan. Karena dari 8 orang hanya saya yang laki-laki. Setelah 6 hari di kampung, kami pun kembali ke kota Matsuyama kebetulan hari itu pas hari jumat. Saat saya bermaksud mengunjungi mushalla tempat peribadahan, alhasil saya tidak melihat lagi sepeda yang berjejeran pertanda bahwa tidak ada orang yang datang untuk melaksanakan shalat Jumat di tempat itu. Saya bingung sendiri mau kemana, akhirnya setelah jam menunjukkan pukul 14:00 saya kembali dan hanya melaksanakan shalat dhuhur. Alhasil, ternyata tempat shalat jumat dipindahkan. Belum lagi waktu subuh, kami harus berjuang melawan dinginnya dini hari yang bisa mencapai 2 derajat hingga minus. Untungnya ruangan kami dilengkapi Air Conditioner bersuhu panas.
       Sebagai mahasiswa asing tentunya kami juga diperkenalkan dengan mahasiswa asing lainnya dari berbagai negara. Kala itu kami sedang camping di pesisir ehime sebelah selatan pulau shikoku. Disana kami membantu masyarakat untuk menggarap lahan yang sedang mekar oleh hama tumbuhan kecil namun lain halnya disana kami memakai serba mesin, penggarapannya saja memakai buldozer kecil dan untuk angkat batu memakai tongkang. Sembari mengerjakan tugas, terdengar sensei (sebutan untuk dosen) memanggil kami untuk istirahat. Yang saya amati jadwal kerja orang Jepang banyak istirahatnya.
        Mahasiswa lainnya mengitari meja yang sudah tersedia cemilan enak yang siap dinikmati, namun saya ke toilet terlebih dahulu untuk bersih-bersih. Setelah itu, saya datang dengan muka tanpa dosa langsung tangan saya meraup makanan diatas meja. Spontan suasana menjadi hening dari suara riuh canda tawa seolah saya menekan tombol pause  untuk beberapa detik. Makanan itu pun langsung berselancar di pencernaan saya. Ternyata apa yang sama makan terbuat dari daging babi "astagfirullah", saya diingatkan oleh teman seprogram. Secara spontanitas saya langsung kebelakang untuk mengeluarkan apa yang saya makan tadi namun tak bisa keluar dan hanya pasrah. Allah maha tahu, saya tidak bermaksud memakan babi.
      Idul adha menjadi tantangan kami selanjutnya, rasanya sangat berbeda tentunya merayakan hari raya umat muslim kedua ini di negeri orang. Apalagi jauh dari keluarga dan teman dekat. Rasanya seperti hari biasa tidak ada yang spesial. Namun langkah kaki saya untuk melanjutkan ke tempat peribadahan di gedung yang telah disewa (ada pemberitahuan selanjutnya) menjadi semangat untuk mencoba hari raya di Jepang. Kala itu saya bergabung dengan orang Indonesia, bertemu dengan sesama umat muslim saja kami sangat bersyukur apalagi dengan sewarga negara. Langsung seperti saudara sendiri. Yang berbeda juga adalah setelah selesai idul adha, ada yang kembali ke kantor, kuliah dan lain-lain. Kami pun kembali ke asrama setelah foto bersama seluruh umat muslim yang ikut shalat Id.
      Rasanya pengen Cry tapi ini tuntutan pendidikan di luar negeri demi ilmu yang lebih. Maka kami rela jauh dari keluarga dan kebersamaan mereka. Sebagai mahasiswa pertukaran pelajar yang taat aturan, kami melanjutkan kuliah yang telah terjadwal. Sore harinya alhamdulillah dapat bagian makanan lebaran dari sesama orang Indonesia. Menurut saya dalam bahasa makassar "ini tongmi yang diingat di kampungnya orang". Walaupun tak seramai dan seenak di negeri asal tapi itu adalah kesyukuran yang luar biasa. Betapa tidak kami tidak menemukan makanan Indonesia di Jepang selama 1 bulan lebih terakhir
     Masih bercerita mengenai suka duka. Lanjut cerita, waktu itu kami ke Tobe Zoo yang merupakan kebun binatang yang ada di ehime Prefecture. Alhamdulilla rasanya senang sekali pertama kali melihat pinguin, beruang salju, anjing laut, singa laut, dan kuda nil. Karena waktu yang berbatas kami memutuskan untuk kembali. Waktu saat itu mentari sudah hampir meninggalkan pencahayaannya, kami mengejar waktu shalat Azhar. Singkat cerita langsung kami melaksanakannya di perhentian bus. Bus di Jepang atau apapun itu untuk transportasi sangatlah disiplin, saat menjelang 2 rakaat bus tumpangan kami datang dan dengan cepat ingin pergi. Kami pun langsung memutuskan shalat kami dan melanjutkan di bus. Sungguh perjuangan...
      Di malam terakhir kami, sensei melaksanakan pesta perpisahan atau lebih dikenal farewell party. Lagi-lagi disana terdapat banyak makanan namun saya berpikir kami terbatasi karena yang ada daging semua dan hanya beberapa makanan vegetarian. Berjalan sekitar 2 jam-an, sensei pun bertanya "Kenapa tidak makan ayam",.. saya: "maaf terima kasih sensei, ada koq buah and sayurnya" -- sensei "daging ayamnya kami beli di halal store jadi ini dimasak khusus untuk kalian ".... Langsung dah saya balas dengan senyuman, dan mengambil piring dalam hatiku berkata "rejeki nomplok, lama sudah tak makan daging"...
       Sebagai umat muslim yang menuntut ilmu ataupun bekerja di luar negeri tidak semudah yang kita pikir, mereka harus berjuang mulai dari budaya yang beda, empat peribadahan serta makanan yang halal yang notabene biasanya lebih mahal. Akhirnya saya kembali dan mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan dan akan memanfaatkannya, di negeri kami bisa beribadah di mesjid yang megah tanpa khwatir dengan makanan haram. Daging ada dimana-mana dan bisa dimakan. Mudah-mudahan bisa menikmatinya sebelum kembali berjuang di negeri orang lagi untuk melanjutkan studi. Amin.... Sungguh suatu perjuangan bagi mereka dan saya salut akan hal itu. Terima kasih negeri Sakura. Sayonara...

1 comments:

Bahasa Daerah: Dulu, Kini dan yang Akan Datang

19:47 Unknown 0 Comments

basohamdani.com - Bahasa Daerah: Dulu, Kini dan yang Akan Datang | Suatu anugerah yang diberikan untuk negeri Nusantara ini yaitu beragam budaya termasuk banyaknya bahasa daerah yang mencapai 746 bahasa daerah, angka yang sungguh fantastis untuk jumlah bahasa. Suatu tantangan tersendiri bagi pelancong mancanegara untuk menginjakkan kaki di negeri ini. Betapa tidak, hanya cukup sekitar 100 km saja anda akan mendapatkan bahasa daerah yang tidak sama dan beragam. Bahasa daerah juga menjadi indikator peradaban umat manusia.
Peran pemuda menjadi kunci utama keberlanjutan bahasa daerah.
         Namun tahu kah anda Kepala Pusat Penelitian dan Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PMB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Endang Turmudi (Yahoo, 2013) mengatakan bahwa Hanya 9 Bahasa daerah yang akan bertahan di Indonesia diantaranya Aceh, Batak, Lampung, Melayu, Jawa, Bugis, Saunda dan Sasak.  Menurunnya minat pemuda untuk menggunakan bahasa daerah semakin hari semakin menurun. Tergerusnya penggunaan bahasa daerah dan meningkatnya pengetahuan bahasa inggris yang nota benenya adalah bahasa international menjadi salah satu penyebabnya. 
        Tidak bisa dipungkiri bahwa hal itu banyak terjadi di lingkungan kita. Saya  pun merasa dan terketuk sebagai pemuda daerah yang bersuku bugis asli pernah merasakan bahwa bahasa ibu tergerus karena kurangnya penggunaan bahasa daerah di kehidupan sehari-hari saya di negeri orang dan meningkatnya pembelajaran bahasa asing yang semakin saya galakkan. Setiap orang berbeda, alasan mengapa penggunaan bahasa daerah kurang diminati. Apakah karena hanya terlihat keren menggunakan bahasa asing atau bagaimana. Tidak ada salahnya belajar bahasa asing bahkan itu sangat diperlukan tapi kesadaran pada bahasa daerah tetaplah harus ada. 

       Perlakuan terhadap bahasa daerah dikarenakan tuntutan menuntut ilmu pada kegiatan keseharian saya tidak mendapatkan orang yang menggunakan bahasa bugis. Belum lagi tuntutan profesi saya dulu sebagai penyiar radio dalam sebuah organisasi penyiaran kampus yang mengharuskan saya untuk menghilangkan "logat" demi sebuah kualitas penyiaran di radio. Ditimpa lagi dengan tuntutan pembelajaran bahasa asing untuk menggapai cita-cita saya untuk belajar diluar negeri. Walaupun dalam hati betapa mirisnya saya jarang menggunakan bahasa daerah. Kemudian saya kembali untuk memperbaiki, walaupun sekarang tidak bisa saya pungkiri juga, bila lawan bicara saya pakai bahasa bugis saya mengerti isi pembahasannya namun saya tidak tahu membalasnya dengan bahasa bugis itu sendiri.  Saya masih terus berjuang untuk belajar kembali bahasa daerah. Bila bukan kita sebagai suku daerah kita yang menggunakan bahasa daerah asli siapa Lagi. Hal itu menjadi terus hinggap di pikiran saya. Alhamdulillah, bahasa daerah saya pelan-pelan kembali. Ternyata kunci bahasa adalah mengulang dan mengulang.  Selain itu, menghubungi orang tua di kampung selain mempererat silaturahmi juga untuk meningkatkan kemampuan bahasa daerah kita yang semakin tergerus di rantau. 

Konon di sebuah wilayah di Indonesia salah satu cara untuk menjajah daerah itu adalah menghilangkan peradabannya melalui penghilangan bahasa lokalnya. Bahasa adalah peradaban sebuah kaum. Maka banggalah akan bahasa ibu kita. Di beberapa daerah di Indonesia, anda bebas menggunakan bahasa lokal anda dan perlu diketahui tidak semua di negara ini seperti apa yang kita alami. Bahasa daerah adalah salah satu unsur kebebasan berkomunikasi. Di perantauan, saya juga sangat terbantu dengan penggunaan bahasa daerah. Banyaknya suku bugis yang tersebar bukan hanya di nusantara tetapi juga di manca negara membuat kami semakin erat di tanah rantau. Kadang terbantu dengan tumpangan gratis, perlindungan, pengenalan daerah yang dikunjungi, intinya dimana pun kami berada bahasa daerah inilah yang menjadi pemersatu kami. Merantau jauh tidak saling mengenal namun dengan bahasa daerah serasa sudah menjadi saudara kandung.

Sebagai pemuda mari kita lestarikan bahasa daerah kita. Teori evolusi 746 bahasa daerah menjadi 9 bisa kita minimalisir. Sehingga kelak bahasa kita tidak punah ditelan waktu. Bhineka Tunggal Ika... 

0 comments: