Showing posts with label Sosial. Show all posts

Lakukan Ini untuk Keamanan Daring

Beberapa tahun yang lalu Edward Snowden menggegerkan sejagat karena berhasil membocorkan aktivitas pengintaian Amerika terhadap beberapa petinggi negara lain. Hal ini tentu mengingatkan kepada kita semua bahwa bermain internet secara privasi tentulah tidak aman. 

Bulan Desember 2016 kemarin, saya bersama Mr. Ken, pelancong (usia sekitar 70an tahun) keturunan Jepang namun berkebangsaan Amerika, duduk bersama berdiskusi di tepi pantai Pulau Maratua, sebuah pulau terluar NKRI yang banyak digandrungi oleh pelancong berduit. Beliau menghabiskan waktunya untuk masa pensiun dan berlibur di pelbagai wilayah di belahan bumi termasuk Indonesia. Percakapan kami terus berlanjut hingga kami memiliki kecocokan yang sama di bidang kelautan karena kenyataan beliau lulusan doktoral kebijakan laut. Karena ada beberapa file yang ingin saya gandakan dari beliau, kami berdua kembali mengambil laptop di penginapan masing-masing. Setelah itu kembali ke meja semula di pantai. Sejenak setelah membuka laptop, ada kesamaan pada laptop kami yaitu sticky note yang menutupi kamera komputer jinjing kami dan juga kamera depan gawai pintar kami. Ya, kami ternyata sama dalam menjaga privacy meskipun hal ini sedikit aneh bagi orang lain. Mungkin begitulah prolognya kenapa tetiba saya ingin membuat tulisan ini. Apabila rekan-rekan ingin menjaga keamanan anda dalam berinteraksi dalam dunia maya maka ada beberapa hal yang anda bisa lakukan seperti berikut ini:
1. Sticky Note untuk menutup kamera yang terkoneksi dengan internet. 
Gambar 1. Penggunaan Sticky Note pada kamera depan gawai.

    Tentu tidak mesti dilakukan permanen karena terkadang anda akan memakainya apabila ingin melakukan komunikasi tatap muka baik untuk kolega anda ataupun yang terutama keluarga anda dari kejauhan. Saya menyarankan rekan-rekan untuk mengggunakan sticky note (bagian perekat) untuk menutupi kamera anda dengan cara menggungting kertas tersebut seukuran kamera gawai. Kertas ini hanya melekat seadanya pada kamera anda namun tetap bertahan lama. Apabila anda ingin memakainya maka bisa dilepas dengan mudah tanpa merusak kamera gawai. 
2. Berselancar menggunakan TOR
Aplikasi ini bisa anda dapatkan website TOR dengan cara download. Perangkat lunak tersebut bisa diinstal dengan hanya beberapa langkah. Mengapa sih mesti TOR? Nah, aplikasi ini membebaskan anda dari spy atau melindungi privasi anda saat berselancar di dunia maya dengan cara membentengi diri anda dari jaringan pengawasan yang tak terdeteksi dan analisis trafik. Ada banyak kelebihan browser ini tanpa saya harus saya beberkan dalam artikel ini. 
Image result for tor browser logo
Gambar 2. Logo TOR (Sumber: torproject.org)
3. Pikir terlebih dahulu sebelum klik sebuah tautan
Demi keamanan saat ini, maka hindarilah untuk mengklik tautan sembarangan. Hindari sama sekali membuka link yang dikirim oleh orang yang tidak anda kenal. Apabila anda bekerja di perusahaan besar atau pemerintahan, hal ini tentu sangat beresiko yang bukan hanya beresiko untuk pada diri anda tetap juga tempat dimana anda bekerja. Link tersebut mampu mengambil informasi personal (pasaword, detail kartu kredit dll) dan mendownload Malware pada komputer anda. Usaha para hacker untuk menjebak anda ini disebut Phising  dan pelakunya disebut Phise. Setidaknya dalam setiap menit selalu ada korban terjebak seperti pada tautan tersebut dan mengalami kerugian (Sumber: McAfee, 2017).
4. Sistem Operasi TAILS


Sistem operasi ini merupakan software open source yang dibuat oleh anonim developer yang dioptimalkan dalam rangka penyamaran identitas pengguna di dunia online (Natgeo, 2016). Berdasarkan informasi yang ada bahwa software ini sepenuhnya dimuat dalam media eksternal misalnya Flash Disk (kurang lebih 2 GB) untuk melakukan booting komputer. Tails tentunya tidak menyimpan data secara lokal sehingga kebal terhadap mata-mata dan juga komputer anda tidak meninggalkan jejak apabila dikemudian hari diperiksa. Untuk OS ini saya belum menggunakannya karena masih terbiasa dengan windows 10.

Image result for tails os logo
Gambar 3. Logo Tails (Sumber: ommons.wikimedia.org)

Bekal untuk Berinvestasi Sejak Mahasiswa

Bekal untuk Berinvestasi Sejak Mahasiswa

Mungkin dalam benak kita, seorang mahasiswa yang kaya adalah mahasiswa dengan gadget berteknologi tinggi yang update dan mengendarai sebuah motor sport ala Boy dalam sinetron masa kini. Namun, yang penulis maksud dengan Rich Student adalah mahasiswa yang berpikir untuk berinvestasi agar mendapat keuntungan di kemudian hari atau memiliki persiapan matang sebelum menyelesaikan studinya.

According to Cambridge Dictionary. Invest is to put money, effort, time, etc. into something to make a profit or get an advantage.

Beberapa hari yang lalu, saya kembali mencari beberapa artikel mengenai Financial Freedom. Intinya, uanglah yang bekerja untuk kita. Kaitannya dengan financial freedom dan mahasiswa adalah kamu akan merasakan freedom dari segala kekhwatiran setelah menyandang status sarjana. Baik itu masalah pekerjaan atau hal lain yang akan kamu lakukan setelah itu. Singkatnya, bekal sebelum meraih gelar. Ada poin penting ternyata yang saya dapatkan dan membahasnya terkait kehidupan kemahasiswaan. Secara finansial ada 3 jenis orang yang membedakan yaitu Broke People, Middle People dan Rich People. Dalam tulisan ini, saya menganalogikan Rich People sebagai Rich Student. Yang membedakannya adalah rich student lebih menyukai berinvestasi. Mereka (baca: Rich People atau Rich Student) lebih suka berinvestasi dan kemudian mendapatkan aset yang berpenghasilan per bulan. Sementara yang lain lebih cenderung menghabiskan seluruh uang pada alokasi pengeluaran yang tidak begitu penting seperti gadget yang kemudian tidak begitu mereka perlukan atau seperti Middle People yang hidupnya lebih cenderung menghabiskan gajinya menyicil kredit motor, mobil dll.



Gambar 1. Ilustrasi (basohamdani.com, 2016)

Dalam kehidupan mahasiswa ada beberapa investasi yang tidak semua mesti dilakukan dengan kapital. Investasi-investasi apa yang bisa kamu lakukan saat (atau sesudah menyandang) status mahasiswa, berikut list yang bisa dipertimbangkan:
1.Soft Skill
Soft skill memegang puncak investasi yang mesti dimiliki. Soft skill tersebut seperti integritas dan kejujuran. Jagalah setiap kepercayaan yang orang lain berikan. Bila menanam kepercayaan pada setiap orang maka investasi yang kamu dapatkan ke depan adalah integritas. Hal ini membuat peluang anda lebih besar. Peluang akan menjadi lebih besar pada jejaring yang anda miliki dibandingkan dengan yang lain yang tidak atau kurang memiliki pada posisi ini. 

2. Akademik
Menjadi mahasiswa adalah amanah, salah satunya yang paling penting adalah amanah dari orang tua. Pengeluaran dan waktu yang digunakan cukup besar. Memiliki nilai akademik yang memumpuni merupakan salah satu kriteria pemenuhan hal tersebut.Seorang mahasiswa seharusnya memiliki nilai akademik yang baik dan menguasai apa yang mereka pelajari atau perdalam sesuai jurusan yang diambil kecuali bila kamu memang yakin bahwa kamu memiliki bakat yang mesti kamu perjuangan sehingga bisa menjadi seperti Bill Gates atau Steve Jobs.

Perlu diketahui bahwa kebanyakan seleksi terdiri dari banyak tahap, minimal tahap administrasi dan wawancara. Investasi selanjutnya yang perlu kamu dapatkan adalah pengalaman berorganisasi untuk investasi melewati tahap wawancara. Tahap wawancara merupakan ejakulasi skill dan pengetahuan yang kalian miliki selama mahasiswa yang dituangkan dalam beberapa menit, Hal ini tidak membutuhkan hanya dengan membaca buku yang kamu beli seperti Cara Lulus Wawancara Kerja atau menghafal semua jawaban yang kemungkinan muncul pada saat seleksi wawancara. Nah, perhatikan poin selanjutnya, 

3. Pengalaman Berorganisasi
Anomali pretensi berorganisasi sudah membanjiri atmosfir kampus. Banyak organisasi kemahasiswaan sedang mengeluhkan jumlah generasinya semakin menurun dari tahun ke tahun. Fokusnya mahasiswa pada sisi akademik menjadi faktor terberat dalam kasus ini. Keberlanjutannya semakin terancam dari anomali ini. Kamu juga bisa ikut di organisasi yang sesuai minat dan bakatmu. misalnya menggeluti olahraga favoritmu di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Hitung-hitung kamu juga menjaga kondisi kamu supaya tetap prima dengan rajin berolahraga dan bersosialisai. Siapa yang tahu bila takdir finansial atau profesimu memang pada hobby yang kamu lakukan saat ini. Dengan memiliki pengalaman organisasi, seorang mahasiswa akan terbiasa bersosialisasi dengan banyak orang atau setidaknya bisa bicara di depan umum. Sebagian besar pemimpin lahir dari mahasiswa yang bergelut di organisasi. Bapak proklamator merupakan sosok yang aktif berorganisasi sejak sekolah dan juga  seperti sosok Presiden Jokowi dan Pak Yusuf Kalla.

4. Jejaring
Poin ini juga terkait dengan poin sebelumnya. Perluas jejaring yang kalian miliki. Miliki banyak teman sesuai jurusan, berbeda jurusan, berbeda daerah bahkan negara. Bangun komunikasi yang baik dari mereka. Kalian bisa membangun networking dengan memenuhi poin pertama. Bergabunglah dengan komunitas di sekelilingmu. Mereka terdiri dari beragam latar belakang. Kalau kamu bisa perbanyak teman dari masing-masing jurusan yang berbeda dan berada pada provinsi yang berbeda. Suatu saat entah kalian butuh atau dibutuhkan mereka dan rezeki tidak akan kemana-mana. Memiliki banyak teman juga merupakan rezeki. Jangan lupa keluarga juga merupakan jejaring anda. Jadi, tetap jaga komunikasi dengan mereka.

5. Entrepreneurship
Cobalah memulai usaha atau bisnis kecil-kecil sebagai lahan belajar kalian atau nantinya bakal menjadi pundi-pundi penghasilan besar. Ubahlah bahwa menjadi sarjana tidak mesti harus kerja di perusahaan atau melulu menjadi PNS seperti orang lain idamkan. Semua hal tersebut baik dan akan lebih baik lagi bila kamu bisa menciptakan pekerjaan bagi orang lain. Selain itu, kamu juga bisa bergabung dengan teman-temanmu dengan berinventasi kecil-kecilan pada sebuah usaha yang teman kamu miliki atau orang lain miliki. Merintis usaha memang tidak mudah namun nikmatilah prosesnya. Siapa yang tahu  kamu juga bisa seperti Bu Susi (Menteri Kelautan dan Perikanan) dalam perjuangannya merintis Susi Air.

6. Membaca
Seberapa banyak buku yang telah kamu baca hingga hari ini. Pertanyaan selanjutnya, seberapa berkualitas buku yang anda baca?, Output dari membaca adalah kemampuan untuk menulis. Informasi yang kita dapatkan melalui membaca akan memperkaya tulisan kita. Dengan menulis, kita mampu menghasilkan karya seperti dengan  buku, blog atau website yang bahkan bisa mendulang dollar, mengirim artikel di media cetak atau setidaknya kamu tidak sulit menghadapi skripsimu nantinya dengan terbiasa membaca banyak referensi atau kamu juga bisa ikut lomba karya ilmiah yang dilaksanakan oleh kampusmu. Bahkan kamu berpeluang menyusul prestasi Pramoedya Ananta Toer.


Ditulis di Makassar
Tgl 24 Juli 2019


Exploitasi Emosi Demi Keuntungan

Apakah kalian bosan dengan berita Hoax?

Maksud hati membuka sosial media sekedar melihat notifikasi tiba-tiba ada tulisan atau berita yang memancing emosi. Nah tulisan-tulisan seperti itulah yang memberikan dampak emosional paling banyak menjadi incaran pendulang duit.

Trend ini semakin meningkat di semua lini media sosial. Terlalu mudah membagi berita dan menyukai di sosial media. Betapa tidak, hanya satu klik semua bisa beres, misal dari website cab*cab*an.com atauu ter*ngter*ngan.com. Perlu diingat, tidak semua media online ternama menampilkan informasi yang akurat dan tepat bahkan ada yang mengorbankan integritasnya untuk meraih rating tertinggi, waktu pengeditan bisa saja hanya sedikit dibandingkan media cetak apalagi media online yang asal.
Gambar 1. Anger (Sumber: hypnu-haven.com)
Setiap orang terutama anak muda memiliki porsi besar untuk energi yang berdampak pada emosi. Sayangnya, media amatiran memanfaatkan ini untuk meraup kapital.  Sangat disayangkan bila energi dan waktu kita hanya untuk memikirkan dan terjebak di berita Hoax.

Amarah, kebencian, fitnah dan semua kata-kata tidak pantas lainnya ditampilkan dan dibalut sedemikian rupa agar pembaca tertarik membuka link. semua diobral mengalahi pasar sentral di seluruh penjuru setiap kota. Dengan kata lain bisa dibilang Gosip Modern, kalau dulu mungkin hanya teman dekat yang tahu atau tetangga tapi hari ini, satu hari bisa jadi dari Sumatera-Papua melihat berita sekali itu. 

Beberapa teman di media sosial memposting dengan maksud mengklarifikasi berita-berita apakah berita tersebut Hoax. Padahal judulnya saja sudah tidak sedap dihati (bukan dimata). Ingin mengecek apakah berita itu valid atau tidak yang isinya menggumbar segala macam hal negatif. Secara tidak langsung kita ikut menyebarkan hal negatif itu, siapa yang bisa jamin bahwa semua pembaca yang membaca postingan kita menelan mentah atau tidak. Sebaiknya berpikir keras adalah pilihan sebelum menyebar informasi yang bersifat negatif. Bukan berarti kita harus berpikir apatis terhadap permasalahan sekitar. Penulis tidak mengajak anda untuk menjadi apatis terhadap isu terkini, bahkan mengikuti isu terkini membuka wawasan kita. Namun, penulis tekankan bahwa sebagai pembaca yang budiman, kita harus menyaring apa yang kita baca,

Jangankan individu, beberapa organisasi besar juga bisa bertengkar gegara sebuah postingan media online yang tidak bertanggungjawab. Hasilnya, semua anggota merasa berhak untuk berkomentar di sosial media untuk menanggapi. Bahkan bersedia mati-matian standby 24 jam untuk mengikuti berita.

Disudut sana, sebuah operator media amatir sedang senang-senang melihat rating pembaca yang semakin meningkat. Statistik pembaca bisa dicek. Paling tidak seperti tulisan apa yang paling banyak dibaca, jumlah pembaca menggunakan ponsel genggam atau desktop terhadap website, dari negara mana yang paling banyak membaca, berapa jumlah pengunjung dalam sehari, hari itu, kemarin atau sebulan dan sudah berapa dollar yang terkumpul dari website tersebut (monetasi).

Sudah tahu kan bahwa kenapa banyak iklan saat nonton sinetron dll. Di Australia, sinetron disebut Soap Movie/Opera. Kasus ini sama dengan media online "semakin banyak pembaca maka penghasilan yang berkurs dollar sebuah media semakin bertambah". Prosesnya ketika anda membaca berita Hoax, emosi anda terprovokasi, anda membaginya, yang lain kemudian membacanya, begitu hingga tercapai ribuan pembaca bahkan jutaan. Kaitannya dengan finansial freedom, anda marah mereka raup keuntungan hanya dengan tinggal diam di rumah. Duduk manis sambil menghasilkan uang, siapa yang tidak mau? Sayangnya, dari amarah para pembaca. 


Nasionalisme Tergadaikan

NASIONALISME TERGADAIKAN
Oleh: Baso Hamdani
Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki perbandingan potensi penduduk usia produktif lebih besar daripada usia non produktif. Rata-rata usia penduduk Indonesia adalah 27,2 tahun (BPS, 2010).  Angka tersebut menunjukkan bahwa penduduk Indonesia masuk pada kategori menengah  (intermediate). Dengan standar usia menengah yaitu usia 20 hingga 30 tahun. Hal ini berarti negeri dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia ini yaitu sekitar 240 jiwa memiliki  potensi yang bisa ditopang oleh pemuda dibandingkan negara lain misalnya Jepang dengan rata-rata usia penduduk sekitar 84 tahun.  Keuntungan ini menjadi lirikan dari berbagai pihak luar dan dalam negeri.
Jiwa nasionalisme pemuda Indonesia diharapkan terus melekat termasuk mempertahankan budaya.  Intrinsik budaya timur masih melekat pada bangsa yang baru merdeka 69 tahun ini. Budaya gotong royong juga ada pada pribadi masyarakat negeri ini termasuk gotong royong dalam perihal kemanusiaan. Sebut saja kejadian baru-baru ini bahwa Indonesia mendapat pujian dari PBB atas kepeduliannya terhadap migran Rohingnya. Hal tersebut dilakukan secara relevan dan relawan bukan dilakukan pada saat ini saja tapi telah dilakukan jauh sebelumnya.
Relawan Muda
Banyaknya kegiatan relawan usia produktif menjadikan pribadi lain mencari keuntungan atau sekedar 'citra'. Fenomena ini semakin jelas terlihat. Pemanfaatan tenaga muda sebagai penyedia lahan Sumber Daya Manusia (SDM) yang 'segar' diharapkan menjadi agen perubahan seperti sedia kalanya sewaktu menyandang status mahasiswa, meskipun ada beberapa bagian dari mereka yang apatis bahkan anomis. Pihak yang tidak bertanggung jawab atau memanfaatkan momen menjadikan SDM 'murah meriah' adalah alternatif penekanan biaya, bukan hanya merugikan pemuda itu sendiri, tetapi juga negeri ini. Fresh graduate bisa menjadikan kegiatan relawan sebagai wahana masa transisi antara pekerjaan dan mahasiswa atau kegiatan relawan bisa menjadi pijakan sebelum menyandang embelan master.
Gambar 1. Menyapa Negeri di Batas Negara, Pulau Sebatik
Indonesia memiliki banyak cendekiawan namun kurang diapresiasi, cendekiawan yang bertahan bisa saja hanya asyik di ruangan ber-AC daripada  ke lapangan untuk mengimplementasikan ilmunya. Meskipun bidang yang diahlikan adalah terkait erat dengan lapangan. Jangankan menjadi relawan turun lapangan pun terkadang terkesan ogah. Kurang aktifnya para ahli untuk turun secara langsung terkait bidang ilmunya sendiri menjadikan kualitas pekerjaan menurun sehingga merugikan negara. Bila hal ini terjadi, motto data mencerdaskan bangsa bisa saja sebaliknya terjadi, dikarenakan data yang seadanya dan cenderung sembrono. Proyek akademis berstatus piutang Negara pun yang berkecambah dalam kampus terkadang melibatkan pseudo-intelektual. Hal tersebut menjadi keuntungan sepihak oleh pihak kongkalikong.
Berbelit
Secara gamblang, media memberitakan sosok dari pelosok negeri tentang keberadaan tenaga pendidik yang tidak digaji sepeser pun. Ia dipuja-puji oleh banyak orang, sebagai imbalannya naik pada gelanggang talk show.  Menginspirasi sekaligus menyayat hati, betapa kurang perhatiannya negeri ini atau birokrasi setempat. Hal tersebut menjadi ambivalen, nasionalisme dgn harga tinggi tergadaikan dgn sangat rendah. Bukan sebuah apresiasi, bangsa ini sangat perlu untuk maju dengan ditopang oleh generasi muda. Begitupula dengan pribadi nasionalisme mereka dengan melalui kegiatan pengabdian yang dilakukan. Heroisme masa kini yang dilakukan pemuda seharusnya sudah terbangkitkan atau hal ini hanya menjadi tontonan belaka atas nama nasionalisme.  Status relawan hanya disadari oleh Relawan itu sendiri dan menjadi pekerja kasar bagi pemegang modal. Bisa saja ini adalah ajang jual diri secara underground. Jadi jangan heran bila kejadian terlantarnya pemuda penggerak pembangunan mencuat. Birokrasi bahkan mengabaikan dengan cara penyaluran yang tidak langsung dan berbelit. Bisa dibayangkan pula, bagaimana para penuntut ilmu nusantara di luar negeri dipasok melalui beasiswa dalam negeri yang tersandung oleh berbelit-belitnya birokrasi.   
Birokrasi Harus Berbenah

Esensi relawan generasi muda berjiwa nasionalisme jika banyak membawa mudharat dibandingkan manfaatnya, akibatnya ihwal kerelawanan luntur hingga tertelan waktu. Pemuda akan cenderung apatis dan menjadi individual. Bila ini terjadi dan Indonesia  tidak berbenah serta tidak berkomitmen, maka kejadian ini tidak akan terjadi sekali dan menjadi wajar. 

Ojek online. Apakah itu sebuah solusi?

Hi Jakarta...
Kota metro, ternyata kita berjumpa lagi setelah menjauh darimu selama 8 bulan di Papua... Kaki masih terasa berat turun di armada pesawat kebanggan negeri ini setelah terbang lebih dari 3000 km. Langit yang dulunya cerah membiru jernih berhias awan sekarang berubah menjadi langit berwarna abu-abu seragam. Penglihatan menjadi terbatas untuk melihat jauh karena terhalang dinding-dinding beton. Mimpi buruk tentang kemacetan mulai menghantui sela-sela pikiran.

Serasa baru kemarin meninggalkan tanah itu, mungkin karena saya sangat menikmati pengalaman dan keindahan di Papua. Menelusuri pinggiran batas utara Indonesia yang berbatasan langsung dengan Negara Palau di tanah saudara-saudara kita disana. Sebagai pribadi saya menganggap itu adalah bagian pengabdian saya untuk NKRI. Disana tak ada macet karena saya tinggal di pulau terluar nusantara ini tapi sebenarnya meskipun juga kota Biak gak ada macet yang merupakan kota terdekat dari lokasi tugas saya dari Kementerian Kelautan dan Perikanan sejak bulan Mei 2015. Jangan tanya tentang ikan segar pasir putih, kei
ndahan terumbu karang, keramahan masyarakat dan lain-lain karena itu sudah pasti.

Gadget yang berstatus ponsel pintar mulai bersahabat untuk selalu dan segera dibelai. Notifikasi sosial media bergerumul menelusuri dan memenuhi email-email di layar. Itu tak penting, yang terpenting adalah saya harus chat sahabat saya karena saya akan tinggal bersamanya seperti biasa di kota ini.

Saatnya pindah transportasi menggunakan armada baru dari aplikasi terkini android berjenis ojek motor dan mobil online, entah kenapa sahabat saya lebih merekomendasikan app tersebut. Saya bahkan sudah tanya, "Dibayar berapa ko sama Ojek app itu, iklan terus" tanyaku dalam aksen makassar. Nyatanya, saya memang harus pakai untuk yang pertama kali di Jakarta bahkan dalam hidup saya. Motor besar dari app yang mengantarku menuju apartemen begitu lihai dan cepat terasa tanpa hambatan, melalui lorong-lorong yang bahkan sangat sepi. Mindset saya kemudian berubah bahwa saat ini Jakarta sudah mulai bersahabat dengan orang seperti saya yang tidak suka dengan hal kemacetan. Meskipun tidak sepenuhnya karena jelas kota ini adalah kota metro.

Perkembangan begitu cepat yang dulunya saya harus naik transport ke kantor DFW sampai dua jam sekarang bisa sampai 15 menit bahkan 10 menit saja. Belum lagi, ketika lupa bawa barang saya di apartemen (apartemen sekretariat organisasi) tinggal pakai ojek untuk jasa express. Pulang kantor bareng teman ke apartemen pakai ojek mobil. Bersama teman saya bisa share biayanya, sangat mudah, cepat, pelayannya lumayan serta aman. Sebagai konsumen, inovasi ini cukup kerenlah.

Selain itu, apabila memesan ojek mobil, saya suka duduk di depan untuk sekedar berdampingan dengan sopir selain mereka ramah-ramah saya juga lebih leluasa mengisi waktu lebih produktif termasuk bertanya-tanya mengenai penghasilannya yang bisa mencapai 16 juta per bulan upz ada yang mengaku pas lagi awal-awal bulan kerja mencapai 32 juta gilaaakk bahkan beberapa dari mereka yang tergolong freelancer (misal mahasiswa) bisa meraih 6-7 per bulan. Sopir-sopirnya pun nggak membedakan-bedakan gender, seorang single parent sebut saja ibu-M mengaku sangat terbantu dengan penghasilan saat ini dan tidak merasa begitu repot apabila dibandingkan dengan pekerjaan awalnya.

Hingga saat ini saya merasakan beberapa kenyamanan dan semoga itu adalah manfaat dari adanya aplikasi ojek online. Namun berbicara mengenai kekurangan pasti ada beberapa hal dan juga masukan pribadi seperti
1. Masih adanya ojek biker yang melawan arus lalu lintas.
Perlu ada pendisiplinan dari hulu sebagai langkah yang lebih baik. Meskipun para biker sudah dilatih dan berkualifikasi baik namun tetap perlu adanya kontrol. Mungkin bisa melalui tracker supervising dengan melihat jalur2 yang dilanggar. Ya, bisalah... apasih yang gak untuk tim kreatif. He3...
2. Mengurangi secara drastis pendapatan ojek biasa.
Jaman saat ini sudah dinamis. Inovasi dan Persaingan tidak bisa dielak.
Gak semua tukang ojek di Jakarta beralih menjadi ojek berbasis app android dan tidak semua yang mendaftar lulus menjadi biker. Kesetimpangan ini perlu diperhatikan. Bahkan kalau boleh pemerintah mencarikan solusi bagi mereka karena ini urusan terkait hidup begitupula dan terutama untuk ojek online dan sejenisnya agar semata-mata tidak mengenai bisnis dan memberikan solusi untuk memunculkan masalah baru yang lebih mendasar.
3. Ojek Mobil masih menggunakan plat hitam
Saya tidak tahu banyak mengenai penggunaan plat hitam dan kerjasama yang telah dilakukan oleh Ojek Online dengan pihak yang berwajib. Dari beberapa driver mengatakan bahwa masih dalam tahap proses. Apakah menggunakan aturan baru atau revisi. Yang pasti, ini harus disiplikan atau dicarikan solusi.

Sebagai langkah akhir, pertanyaannya adalah apakah ojek online dan sejenisnya adalah sebuah solusi? Tentunya ini perlu dianalisis lebih jauh. Secara pribadi, hal ini sudah lumayan bagus namun beberapa point permasalahan dan masukan di atas perlu di perhatikan. Sehingga bener-bener memberikan solusi buat kota-kota besar di negara berkembang khususnya di Indonesia.




Dimensi Kebenaran

Tatkala disaat kami makan. Saya sempat melamun dan ditegur sama sahabat saya. 
"Antum, kenapa melamun sepertinya ada yang dipikirkan". 
"Iya, saya sepertinya akhir-akhir ini memikirkan sesuatu" balasku.
"Apa itu, akhy" pintanya dengan logat biasa
"Berbuat baik itu susah ya, kalau berbuat salah itu biar semenit. Saat ini saya ingin berbagi ilmu dengan adik-adik di kampus. Hanya saja saya terkendala dengan kondisi di kampus. Entahlah, di lingkungan saya sangat susah, mungkin karena pernah terjadi masalah antara pelajar dengan pendidik. Saya takutnya dikira mendoktrin mahasiswa, belum lagi serba salah dari versi lingkunganku. Saya harus siap salah di mata orang lain karena ada sedikit masalah di kampus" balasku. 
"Saya pernah dapat teguran dari atasan, saat itu saya benar-benar hanya ingin berbagi dengan adik-adik saya di kampus dengan hati yang murni. Tapi di sisi lain saya ditegur bahkan dijadikan imej yang sangat buruk bagi pendidik dan itu diluar kendaliku". Kemudian cerita kami berlanjut, sahabat saya mencoba menenangkan hati saya. Anggap saja ceritanya yang saya tangkap seperti dibawah ini.
Gambar ilustrasi (Sumber: cakka.web.id)
        Sahabat saya menceritakan sebuah alkisah mengenai pandangan benar atau salah. Awal cerita itu dimulai oleh seeokor unta yang ditunggangi oleh dua orang yaitu seorang bapak dan seorang anak serta barang bawaannya. Diperjalan seorang menegurnya 
"kasihan untanya, membawa banyak barang bawaan dan kalian menungganginya". Dengan rasa kasian bapak itu turun dari unta dan membiarkan anak dan barangnya di unta. Lanjut cerita anak di atas unta tersebut ditegur lagi, 
"Durhaka lah seorang anak yang membiarkan orang tuanya berjalan kaki sementara dia keenakan diatas unta. Alhasil, mereka kemudian bergantian. Anak yang jalan dan bapak yang menunggang. Lagi-lagi teguran muncul, 
"apakah kamu tidak kasihan melihat anakmu berjalan kaki sedangkan engkau diatas kuda". Dengan rasa gunda mereka turun dari unta, jadinya anak dan bapak tidak lagi diatas kuda dan hanya barang bawaannya. Tidak sampai bermil perjalanan, mereka kemudian ditegur. 
"Dasar, anak dan bapak sama saja bodohnya".
       Begitulah pandangan atau persepktif orang tentang sesuatu, mereka memiliki hak untuk berbicara dan menegur. namun untuk hal benar tiap orang akan berbeda. Namun, yang salah yang diajarkan seperti mencuri, membunuh dll yang diajarkan agama tetaplah salah. Sepanjang kamu merasa benar maka lakukanlah, asalkan tidak bertentangan dengan agama. Salah satu referensi tentang benar salah juga telah disampaikan  oleh Rasulullah.
Nawwas bin Sam'an r.a. berkata; Nabi saw bersabda:
"Kebajikan adalah akhlak terpuji, sedangkan dosa adalah apa yang meresahkan jiwamu serta engkau tidak suka apabila masalah itu diketahui orang lain." (HR Bukhori)

Buat sahabatku Indon terima kasih atas ceramah singkatnya.



Bahasa Daerah: Dulu, Kini dan yang Akan Datang

basohamdani.com - Bahasa Daerah: Dulu, Kini dan yang Akan Datang | Suatu anugerah yang diberikan untuk negeri Nusantara ini yaitu beragam budaya termasuk banyaknya bahasa daerah yang mencapai 746 bahasa daerah, angka yang sungguh fantastis untuk jumlah bahasa. Suatu tantangan tersendiri bagi pelancong mancanegara untuk menginjakkan kaki di negeri ini. Betapa tidak, hanya cukup sekitar 100 km saja anda akan mendapatkan bahasa daerah yang tidak sama dan beragam. Bahasa daerah juga menjadi indikator peradaban umat manusia.
Peran pemuda menjadi kunci utama keberlanjutan bahasa daerah.
         Namun tahu kah anda Kepala Pusat Penelitian dan Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PMB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Endang Turmudi (Yahoo, 2013) mengatakan bahwa Hanya 9 Bahasa daerah yang akan bertahan di Indonesia diantaranya Aceh, Batak, Lampung, Melayu, Jawa, Bugis, Saunda dan Sasak.  Menurunnya minat pemuda untuk menggunakan bahasa daerah semakin hari semakin menurun. Tergerusnya penggunaan bahasa daerah dan meningkatnya pengetahuan bahasa inggris yang nota benenya adalah bahasa international menjadi salah satu penyebabnya. 
        Tidak bisa dipungkiri bahwa hal itu banyak terjadi di lingkungan kita. Saya  pun merasa dan terketuk sebagai pemuda daerah yang bersuku bugis asli pernah merasakan bahwa bahasa ibu tergerus karena kurangnya penggunaan bahasa daerah di kehidupan sehari-hari saya di negeri orang dan meningkatnya pembelajaran bahasa asing yang semakin saya galakkan. Setiap orang berbeda, alasan mengapa penggunaan bahasa daerah kurang diminati. Apakah karena hanya terlihat keren menggunakan bahasa asing atau bagaimana. Tidak ada salahnya belajar bahasa asing bahkan itu sangat diperlukan tapi kesadaran pada bahasa daerah tetaplah harus ada. 

       Perlakuan terhadap bahasa daerah dikarenakan tuntutan menuntut ilmu pada kegiatan keseharian saya tidak mendapatkan orang yang menggunakan bahasa bugis. Belum lagi tuntutan profesi saya dulu sebagai penyiar radio dalam sebuah organisasi penyiaran kampus yang mengharuskan saya untuk menghilangkan "logat" demi sebuah kualitas penyiaran di radio. Ditimpa lagi dengan tuntutan pembelajaran bahasa asing untuk menggapai cita-cita saya untuk belajar diluar negeri. Walaupun dalam hati betapa mirisnya saya jarang menggunakan bahasa daerah. Kemudian saya kembali untuk memperbaiki, walaupun sekarang tidak bisa saya pungkiri juga, bila lawan bicara saya pakai bahasa bugis saya mengerti isi pembahasannya namun saya tidak tahu membalasnya dengan bahasa bugis itu sendiri.  Saya masih terus berjuang untuk belajar kembali bahasa daerah. Bila bukan kita sebagai suku daerah kita yang menggunakan bahasa daerah asli siapa Lagi. Hal itu menjadi terus hinggap di pikiran saya. Alhamdulillah, bahasa daerah saya pelan-pelan kembali. Ternyata kunci bahasa adalah mengulang dan mengulang.  Selain itu, menghubungi orang tua di kampung selain mempererat silaturahmi juga untuk meningkatkan kemampuan bahasa daerah kita yang semakin tergerus di rantau. 

Konon di sebuah wilayah di Indonesia salah satu cara untuk menjajah daerah itu adalah menghilangkan peradabannya melalui penghilangan bahasa lokalnya. Bahasa adalah peradaban sebuah kaum. Maka banggalah akan bahasa ibu kita. Di beberapa daerah di Indonesia, anda bebas menggunakan bahasa lokal anda dan perlu diketahui tidak semua di negara ini seperti apa yang kita alami. Bahasa daerah adalah salah satu unsur kebebasan berkomunikasi. Di perantauan, saya juga sangat terbantu dengan penggunaan bahasa daerah. Banyaknya suku bugis yang tersebar bukan hanya di nusantara tetapi juga di manca negara membuat kami semakin erat di tanah rantau. Kadang terbantu dengan tumpangan gratis, perlindungan, pengenalan daerah yang dikunjungi, intinya dimana pun kami berada bahasa daerah inilah yang menjadi pemersatu kami. Merantau jauh tidak saling mengenal namun dengan bahasa daerah serasa sudah menjadi saudara kandung.

Sebagai pemuda mari kita lestarikan bahasa daerah kita. Teori evolusi 746 bahasa daerah menjadi 9 bisa kita minimalisir. Sehingga kelak bahasa kita tidak punah ditelan waktu. Bhineka Tunggal Ika... 

Developed Country

basohamdani.com -  Developed Country |
Quote by Mayor of Bogota
"A developed country is not place where the poor have cars, it's where the rich use public transportation"

     Banyaknya negara maju baru seperti Singapore, Malaysia, dan Afrika Selatan menandakan bahkan negara kita masih tertinggal jauh oleh negeri seberang. Negara kita masih dalam tergolong negara berkembang ini berarti bahwa bangsa kita masih dalam proses menuju negara maju. Coba kita telaah apa yang dikatakan Mayor of Bogota bahwasannya sebenarnya negara maju adalah bukan tempat dimana para yang berekonomi rendah memiliki mobil, tapi negara maju adalah negara dimana para orang yang kaya menggunakan transportasi umum. 
       Bila anda pernah ke salah satu  negara maju misalnya saja Jepang maka anda akan mendapatkan betapa banyaknya orang-orang secara lalu lalang menggunakan sepeda, jalan kaki dan menggunakan transportasi umum. Kita akan mendapatkan banyak orang yang menggunakan sepeda dengan pakaian jas dengan rapi. Bila anda mahasiswa asing di Jepang, mata kita akan terbiasa melihat parkiran sepeda yang sangat banyak atau menggunakan train sebagai mode transportasi umum.
       Jadi guys mari kita menggunakan transportasi umum atau menggunakan sepeda, step by step merupakan langkah bagi kita yang belum terbiasa atau hanya berjalan kaki bila jarak dekat.