The Boundary Edition (Indonesia-Malaysia) IV: "The Ambiguity Residences"

06:06 Baso Hamdani 0 Comments

Sebatik Island Map. (geocurrent.info)
Did you ever assume that there is a residence divided into two countries? They are in Sebatik Island, North Kalimantan, Indonesia. 

         Sebatik island located in North Kalimantan. Partly within Indonesia and partly within Malaysia. Sebatik Island of Indonesia had population 35.777 with population density up to 306,59 (BPS Nunukan, 2013). Even though, government both of the countries had issued the legal border understanding, but delimitation and demarcation still have problems. The problem termed as Outstanding Boundary Problem (OBP) that was happened in Sebatik Island. 
       The question is why that happened? If we want to know, we have to back from the History. In 16 Century, Netherlands people was settled in Tawau. At the time, Britain in Sabah fighted off Netherlands. Then, Netherlands moved to Pembilangan (Nunukan). European people had fundamental role, if they got land of dependency they did not have to be fighting each other. So that, Sebatik islands was divided into two area. 
      The boundary line has been defined by the boundary conventions between the Netherlands and United Kingdom (Britain) in 1891, 1915 and 1928. In these conventions the boundary line is defined by combination of watershed, latitude, river, and straight line. Demarcation survey of land boundary between Indonesia and Malaysia has been started by the Netherlands and Britain, although only related to small boundary portion. Indonesia and Malaysia continue the survey since early 1970s (www.lppm.itb.ac.id).
      Although several boundary monuments have been established and coordinated in Joint Survey between Great Britain and Netherland (1912) and Joint Survey between Indonesia and Malaysia (1982-1983) but the lines still disputable (www.lppm.itb.ac.id).
      

Aji Kuning, Sebatik Tengah


Most of the land boundary in Sebatik Tengah. Aji Kuning is a village that on the border line. Hence, there are some residences divided into two countries. See the pictures below:

Border Monument (Indonesia-Malaysia)

 
The Ambiguity Residences


0 comments:

The Boundary Edition (Indonesia-Malaysia) III = "Maccera Tasi"

04:30 Baso Hamdani 0 Comments

Figure 1. Maccera Tasi
         The Buginese people is an ethnic group that known as sailors and nomads in Indonesia. Many people of buginese spread in this hemisphere. (11/16/2014) People of Sebatik Island, who majority of buginese and other etnics from South Sulawesi, celebrated "Maccera Tasi" as Ocean Thanksgiving and several people of buginese also said "Mappanre Tasi".
     
       This activity took place in Sei Taiwan, Kecamatan Sebatik. Crowded area was shown in that area to introduce, that there were many activities there. Maccera Tasi was carried out by local society as independent for their gratitude for god by their catch of the ocean resources. The objectives of this activity was also manifestation of buginese people to their god and living being of this universe.

Figure 2. People brought the Lawa Soji
       In that ocean thanks giving activity, youth or the next generation could continue their culture and would not forget their mother land i.e South Sulawesi. In their wonder, their culture from buginese would decrease by time and to anticipated Maccera Tasi culture was conducted by buginese origin adopted. People carried out Maccera Tasi in alongside of the beach. One of their activity was Lawa Soji  that was floated in the ocean.
       
        Lawa Soji is  holy barrier. From buginese language, Lawa is barrier and Soji is Holy. Actually, Lawa Soji existed as quadrangle thing made by blade bamboo to protect holy thing such as offering goods for god also used as barrier for marriage ceremonial

Figure 3. Lawa Soji

Figure 4. Student Marching Band





Figure 5. Some Institution DKP and TNI was involved


 













Versi Bahasa Indonesia

         Suku bugis dikenal sebagai salah satu suku pelaut dan perantau. Tidak heran di belahan bumi ini ada banyak tempat yang memiliki warga yang dominan warga bugis. Kali ini penulis berkunjung di Kecamatan Sebatik, tepatnya di pantai sei taiwan. Kemeriahan telah membuat suasana menjadikan sebuah tanda bahwa ada kegiatan yang berlangsung. Pesta laut "Maccera Tasi" kegiatan ini dilaksanakan oleh swadaya masyarakat sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil laut yang telah didapatkan. Kegiatan ini merupakan wujud manifestasi masyarakat bugis terhadap sang pencipta maupun makhluk hidup di alam ini.
        Dalam kegiatan ini pula, diharapkan pemuda-pemudi Sebatik tidak lupa akan tanah dia berasal yaitu sulawesi-selatan. Bupati Nunukan dalam sambutannya menyatakan bahwa nunukan adalah mininya sulawesi-selatan. Dari perantauan tentu saja ada nilai-nilai budaya berkurang dan untuk mengantisipasi hilangnya hal itu maka budaya maccera tasi yang diadopsi dari budaya asal bugis.
Maccera tasi dilaksankan dipinggir laut dengan beragam kegiatan. Kali ini Pulau Sebatik melaksanakan dengan beragam kegiatan salah satunya ada pelarungan lawa soji.
Figure 6. Perahu yang Didekorasi
Figure 7. Penyerahan Hadiah oleh Perwakilan Ambalat TNI AL.



                 
Figure 8.

       
Figure  9

0 comments:

Pesan Jenderal Soedirman di Perbatasan Sebatik

04:18 Baso Hamdani 0 Comments


Sebatik mulai menorehkan kisahnya dari masa Kerajaan Tidung dan awal penjajahan Belanda.  Menurut beberapa sumber kata Sebatik berasal dari ular sawah dan batik. Pada masa penjajahan tersebut, perintis Belanda di Pulau Sebatik melihat ular sawah yang bercorak batik sehingga menyebutnya sawah batik yang kemudian disingkat menjadi sebatik.
Pulau Sebatik terbagi dua wilayah administrasi yaitu wilayah jajahan Belanda dan Inggris yang merupakan hasil kompromi dan perjanjian antara mereka sebagai warga Eropa. Pada saat kemerdekaan Indonesia dan terbentuknya negara Malaysia, Pulau Sebatik tetap terbagi menjadi dua. Sebagian wilayah milik Indonesia dibawah jajahan Belanda dan sebagian lagi milik Malaysia dibawah jajahan Inggris. Walaupun telah terdapat patok batas namun sejarah perjanjian bilateral antar negara telah disepakati, meskipun ada patok yang tidak sesuai dari masa penjajahan terdahulu.
Perbatasan darat dan laut yang ada di Pulau Sebatik memiliki ciri khas tersendiri sehingga menarik perhatian. Beberapa isu perbatasan di Sebatik saat ini adalah isu eksodus masyarakat perbatasan, pelanggaran perbatasan yang dilakukan negara tetangga, lalu lintas barang haram narkoba hingga terjadinya trafficking. Permasalahan tersebut menjadi tugas besar bagi pemerintah Indonesia untuk dapat memberi perhatian dan mengelola perbatasan menjadi lebih baik. Usaha pemerintah Indonesia dengan mengirimkan sejumlah personil TNI di perbatasan menjadi sebuah langkah dalam kerangka pendekatan keamanan (security approach). Sejak dulu, perbatasan Indonesia dijaga secara ketat,  hingga semangat Jenderal Soedirman telah mengalir deras dalam jiwa pejuang kita di perbatasan “Sejengkal tanah pun tidak akan kita serahkan kepada lawan” hingga motto perbatasan “NKRI harga mati” menjadi motto dan tugu resmi di Pulau Sebatik.
Kebijakan pemerintah yang mengedepankan security approach ternyata tidak diikuti serta merta oleh negeri jiran Malaysia. Langkah yang diambil Malaysia berbanding terbalik dan lebih memilih pada pendekatan kesejahteraan {prosperity approach). Saat ini bahkan kiblat ekonomi perbatasan lebih cenderung mengarah ke negeri jiran. Hal ini bisa dilihat dari aktivitas dan relasi Kota Tawau, Malaysia dan Pulau Sebatik, Indonesia. Perekonomian Sebatik bergantung pada Kota Tawau yang jauh lebih sejahtera dibanding Pulau Sebatik. Salah satu masalah yang sulit ditangani saat ini adalah Tenaga Kerja Indonesia yang menjadikan Sebatik sebagai entry point bepergian ke Malaysia. Banyak TKI yang secara illegal masuk ke Malaysia untuk menyambung hidup, desakan ekonomi serta tidak jarang terbawa pada bisnis narkoba dan kriminalitas lainnya. Masalah ekonomi memang mendominasi problematika masyarakat di Pulau Sebatik. Hal ini bisa dilhat dari adanya disparitas ekonomi masyarakat antara warga Indonesia dan Malaysia, Tawau menjadi magnet yang begitu kuat menarik imigran Indonesia untuk berpindah dan mencari kehidupan di Malaysia. Masyarakat kedua negara serumpun ini rupanya memiliki rasa primodialisme tinggi namun minim nasionalisme. Tidak mengherankan bila ada warga negara Indonesia yang memiliki dua identitas yang berbeda untuk satu orang, penduduk yang memiliki KTP Indonesia dan juga memiliki IC (Identity Card) Malaysia, begitu pula pemakaian mata uang ringgit. Sejauh ini, Malaysia lebih berhasil melakukan pembangunan dan penyediaan sarana ekonomi, pendidikan, infrastruktur dan tunjangan hidup warganya.





Gambar. Kota Tawau, Malaysia Dilihat dari Pulau Sebatik, Indonesia

Pertanyaan yang perlu dikedepankan kemudain adalah apakah Indonesia harus tetap bertahan dengan pendekatan pengeolaan yang selama ini di jalankan, atau perlu merubah haluan untuk memberikan penekanan pada kesejahteraan masyarakat?. Ketika negara tetangga telah naik status dan kemajuan ekonomi yang relatif baik. Jawabannya adalah tentunya tidak. Diperlukan integrasi pengelolaan perbatasan melalui penggabungan pendekatan antara prosperity approach dan security approach.  Lalu langkah apa yang seharusnya dilakukan dalam pembangunan perbatasan di Pulau Sebatik yang bisa menjadi role model  bagi pembangunan perbatasan lainnya. Beberapa hal yang perlu diperhatian adalah pertama integrasi dan keberlanjutan pembangunan. Konsep pembangunan perbatasan yang direncanakan sebenarnya sudah bagus namun lemah pada saat di implementasikan. Pembangunan nampak dilakukan tanpa pertimbangan konektivitas, integrasi antar sektor dan memenuhi unsur keberlanjutan. Akibatnya, banyak sarana dan infrastruktur yang sebenarnya sudah terbangun kemudian tidak dimanfaatkan. Tidak jarang ditemui fasilitas umum yang sudah ada, terbengkai karena minimnyya pemanfaatan oleh masyarakat. Kedepan diperlukan perencanaan yang baik, rasional, berbasis kebutuhan dan problem masyarakat dalam pembangunan perbatasan. Infrastruktur dasar seperti jalan, listrik, air bersih dan lain-lainnya seharusnya menjadi patokan utama pembangunan, dilanjutkan pembangunan lainnya.  Diperlukan partisipasi masyarakat berupa tanggung jawab bersama terhadap bangunan yang ada. Kedua  masalah sumber daya manusia. Jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang ada di Malaysia merupakan jumlah terbesar yang ada di luar negeri. Namun kebanyakan menjadi buruh murah bagi negara tetangga. Walaupun TKI adalah pahlawan devisa bagi Indonesia, namun perhatian pemerintah terhadap TKI dirasakan masih minimnya. Kurangnya kapasitas atau skill yang dimiliki TKI menjadi penyebab utama dan sumber persoalan buruh migran selama ini. Hal ini terjadi karena tingkat pendidikan yang rendah dan bahkan tidak memiliki pendidikan. Misalnya saja TKI yang ada di Sebatik Malaysia yang telah bekerja bahkan telah berada pada keturunan keempat dari keluarga pertama kali mereka ke Malaysia. Mereka selama ini dibayar murah sebagai buruh kelapa sawit, jam kerja yang padat dan juga tanpa pendidikan. Tidak mengherankan bila TKI kita ada yang buta aksara dan tidak berpendidikan. Sulitnya akses pendidikan menjadikannya TKI dalam status terbelakang. Guna menjawab masalah ini pemerintah seharusnya lebih memperhatikan masalah pendidikan di perbatasan serta meningkatkan kapasitas atau skill para TKI melalui pelaksaan kursus, magang dan kegiatan peningkatan skill lainny aebelum mereka merantau ke luar negeri.
Ketiga adalah masalah sumberdaya alam. Dengan terpenuhinya infrastruktur dasar, maka langkah selanjutnya adalah bagaimana strategi pengelolaan potensi Sumber Daya Alam (SDA) di lakukan secara berkelanjutan untuk kemakmuran rakyat. Potensi SDA di perbatasan pulau Sebatik cukup besar. Mata pencaharian di Pulau Sebatik adalah nelayan dan perkebunan. Komoditas utama seperti kelapa sawit, kakao dan pisang. Hasil lain yang saat ini menjadi produk unggulan Kabupaten Nunukan adalah teri ambalat. Jadi ambalat bukan hanya terkenal sebagai perbatasan yang kaya akan minyak tetapi SDA laut dan perikanan. Ironinya adalah sebagian besar hasil SDA Pulau Sebatik diekspor ke Tawau dengan harga jauh lebih tinggi daripada harga di dalam negeri. Cost distribusi bahan yang lebih besar apabila dijual di Indonesia menjadi alasan utama beban yang harus dipikul masyarakat. Bahkan pisang yang jumlahnya berton-ton setiap hari memiliki peluang untuk diekspor ke Tawau. Betapa tidak, para pembeli dari Malaysia telah menunggu di perbatasan untuk kemudian diangkut ke Tawau. Bukan hanya itu, hasil alam ini ternyata kembali diekspor Malaysia untuk memenuhi kebutuhan pasar di luar negeri misalnya Singapura. Keempat adalah masalah hubungan antar negara. Pengalaman pahit pemerintah Indonesia atas lepasnya kepemilikan Pulau Sipadan dan Ligitan dan kemudian dimenangkan oleh Malaysia di Mahkamah Internasional merupakan pembelajaran mahal bagi negeri ini. Tamparan keras ini membuat Indonesia tidak mau lengah menjaga perbatasan. Belajar dari masalah tersebut, kini Indonesia seharsunya lebih memperkuat pengelolaan perbatasan dari semua aspek. Selan itu, dimensi hubungan Indonesia-Malaysia yang sangat sensistif memerlukan treatment khusus, detil, kesiagaan tinggi dan responsibiltas cepat jika muncul dan terjadi masalah antar kedua negara. Jika terjadi ketegangan hubungan antar negara, masyarakat perbatasan berharap agar itu tidak diselesaikan dengan cara militer sebab akan sangat menggangu aktivitas perekonomian diperbatasan. Dalil mereka sederhana, bahwa jika terjadi ketegangan hubungan di perbatasan mereka yang akan lebih dulu merasakan dampak tersebut, namun pada saat damai, pembangunan wilayah perbatasanlah yang paling terakhir merasakannya. Sekali lagi, hubungan antar negara Malaysia-Indonesia seharusnya tidak dilihat sebagai kompetitor yang menimbulkan masalah antar kedua negara, tapi perlu digeser sebagai mitra dalam bekerjasama. Menyelamatkan Kelima adalah masalah generasi muda perbatasan. Kehidupan perbatasan bagi anak-anak Indonesia bukanlah impian masa kecil namun karena orang tua sebagai perantau mengharuskan mereka ikut menyelami kerasnya kehidupan perantau pada usia belia. Pendidikan yang terabaikan, usia kerja muda dan pernikahan di usia muda adalah beberapa persoalan yang mereka harus hadapi di atas bara perantauan. Minimnya fasilitas pendidikan, jauhnya akses pendidikan dan orang tua yang sibuk mencari sesuap nasi turut menyumbangkan anak-anak putus sekolah atau bahkan tidak mengenal sekolah. Lalu apa yang terjadi ketika anak-anak tidak dibekali pendidikan yang memadai di perbatasan. Pilihannya adalah bekerja sebagai TKI, usia kerja yang muda, dan godaan narkoba dan pergaulan bebas. Generasi muda sebagai tiang pembangunan bangsa ini seharusnya dilihat sangat jeli oleh pemerintah tanpa ada yang terabaikan. Perlu dilakukan perlindungan pada anak-anak yang berada di perbatasan terutama anak-anak TKI. Bahkan bila perlu dilakukan proses karantina pemuda-pemuda perbatasan guna menyelamatkan generasi muda bangsa Indonesia demi masa depan mereka.

Carut-marut  pengelolaan pengelolaan perbatasan Pulau Sebatik dengan segenap atribut permasalahan yang ada saat ini terjadi tidak terlepas dari posisi Sebatik yang tinggal di zona 3T (Terjauh, Tertinggal dan Terdepan). Harapan masyarakat perbatasan terus disuarakan kepada pemerintah Indonesia. Tak terbilang pejabat pemerintah hingga Presiden sudah lalu lalang berdatangan untuk ‘memberi angin surga’ dan berjanji pada mereka. Di masyarakat terkenal ungkapan “hanya Tuhan yang tidak datang disini (perbatasan)” merupakan ungkapan kekecewaan masyarakat perbatasan yang merasa permasalahan mereka tak kunjung diselesaikan. Kini, momentum untuk melakukan penataan dan optimalisasi pengelolaan perbatasan perlu direspon secara lebih substantif dan tidak hanya sekedar menjadi jargon pembangunan. Pesan Jenderal Soedirman di tugu perbatasan nampaknya perlu di maknai secara mendalam bahwa mempertahankan NKRI, perlu dilakukan secara lebih cerdas. Puluhan tahun silam, Panglima besar tersebut sudah membayangkan beratnya mempertahankan sejengkal tanah negeri ini, bukan saja oleh agresi negara lain, tapi juga oleh ketidakpedulian dari pemerintah sendiri. Perbaikan kebijakan pembangunan di perbatasan dan tata kelola pemerintahan perlu secepatnya dilakukan untuk mewujudkan mimpi kesejahteraan bagi masyarakat di perbatasan. 

Penulis,

Baso Hamdani, Peneliti DFW-Indonesia, pernah bekerja sebagai fasilitator pulau kecil terluar di Pulau Sebatik

0 comments:

The Boundary Edition (Indonesia-Malaysia) II = Poor of Fuel, Rich of Price

06:29 Baso Hamdani 1 Comments

          As archipelago country, Indonesia need transportation for land, sea and air. Transportation use fuel to operate. Several regions have the same problem about fuel. People will be difficult to obtain fuel such as gasoline. Sometimes, TV shows news about the difficult to gain gasoline in Java and make queue for several hours. This case only come after several times in a year. Visiting Nunukan, North Kalimantan, we will find many cars and motorcycle in queue and it is usual phenomenon. The worst of this is always occur in every day.
Cars view in front of Fuel Station
         Subsidy fuel management in Nunukan look very disorganized. This thing had occurred as a result of many business fuel abuse. According to the citizen information, several fuel agency cooperate with fuel retailer. The benefit of the cooperation is high price for getting high income.This process starts from the fuel agency who sell their fuel to the retailer, because retailer want to buy the fuel in high price. Then, the retailer re-sell the fuel to the people. For example, gasoline in normal price is Rp. 6.500/ litre and then it change in Rp. 10.000/ litre. Moreover, retailer through the road sell the gasoline from Rp.10.000 - Rp. 20.000.    
          In fuel station, it seems crowded place as a fuel market. There are numerous vehicle and people bring fuel container. It exceeds of fuel quota standard for each vehicle. Several people complain quota of fuel that it was not enough. 
         Society expect about this classic problem to be resolved by cooperation in each stake holder even they hope to the student in university to do demonstration about this case.
         The question is when the fuel was gone, what happen in this country?. Let see in the future. Whether biofuel or other alternatives can answer the question. 
       

1 comments:

The Boundary Edition (Indonesia - Malaysia) I: Moslem New Year Celebration 1436 H.

20:22 Baso Hamdani 0 Comments

        Boundary area tend to be affected or affect both economic and culture. Immigrants  of indonesian ethnics such as Buginese, Javanese and Nusa Tenggara contibute to the culture diversity on Nunukan Island and Sebatik Island. The effect is like symbiosis. Mixing culture of Melayu can find in boundary land of Sebatik, Indonesia with Sebatik, Malaysia. Sebatik is an island that divided in two countries. Sebatik is include as part of Nunukan district.
        At the night of new year, moslem new year (1 Muharram 1436 H/25 Oktober 2014 M) was celebrated by crowded activity . Melayu atmosphere was felt to celebrate for all of activities in Nunukan City. Some activities that people did are parade for each village of Nunukan and Reog Ponorogo Performance. Here they are the gallery:

People inf front of Tugu Dwikora
Tugu Dwikora



Parade

Parade


Parade

Parade
Parade

Parade

0 comments:

Merumuskan Agenda Perlindungan Laut Pohuwato “Selamatkan Laut Pohuwato”

04:12 Baso Hamdani 0 Comments

Berangkat dari Potensi Besar. Kabupaten Pohuwato termasuk dalam kawasan Teluk Tomini, yang kaya akan sumber daya alam laut dan pesisir. Teluk Tomini dikenal dengan sebutan “heart of Coral Triangle”.  Hal ini disebabkan karena Teluk Tomini memiliki kekayaan biodiversitas laut yang paling tinggi dibandingkan daerah lainnya di segitiga terumbu karang dunia. Wallace dkk di tahun 2000 menemukan keanekaragaman karang dari species staghorn corals (Acropora spp.) dan menyimpulkan bahwa Teluk Tomini menyimpan kekayaan alam laut yang luar biasa, sehingga predikat “center of diversity” pun di berikannya. Jenis ikan karang juga ditemukan sangat tinggi di perairan ini. Survey di tahun 2007 menemukan bahwa kurang lebih 819 species ikan karang berada di teluk ini. Kekayaan sumber daya alam laut dan pesisir yang dimiliki oleh Kabupaten Pohuwato ini yang kemudian menjadikan kawasan ini sebagai salah satu tumpuan bagi ketahanan pangan hampir lebih dari 142.066 jiwa. Hal ini yang menjadi salah satu alasan pemerintah pusat untuk menyelenggarakan Sail Tomini Tahun 2015 yang bertujuan untuk mempromosikan potensi pariwisata di Teluk Tomini.
        Maraknya Aktivitas Merusak. Namun, kondisi kekayaan sumber daya wilayah pesisir dan laut yang dimiliki kabupaten Pohuwato mulai terancam. Data hasil pemantauan dan pengawasan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pohuwatu tahun 2012 menunjukkan bahwa aktivitas penangkapan ikan yang merusak dengan menggunakan bom ikan dan racun/sianida banyak terjadi di kawasan ini. Walaupun alat tangkap yang merusak ini sangat berbahaya bagi kesehatan tetapi juga mampu menyebabkan kematian bagi penggunanya serta tergolong illegal, namun keterbatasan ekonomi, kurangnya pendidikan serta minimnya mata pencaharian alternatif di daerah ini membuat banyak warga bekerja sebagai nelayan yang menggunakan alat tangkap yang merusak.  Aktivitas yang masih sering terjadi hingga sekarang ini adalah fakta nyata yang bukan hanya merusak sumber daya alam dikawasan ini namun juga mengancam ketersediaan pangan bagi warga Kabupaten Pohuwato.





Dari hasil pengamatan selama di lapangan, alat tangkap yang tidak ramah lingkungan menjadi kontributor rusaknya karang dan memiliki hasil penangkapan yang paling banyak seperti bom ikan (700 kg utk 3 orang) dan kompresor (200kg untuk 3 orang).


Bom ikan memiliki penghasilan rata-rata per hari yaitu 700 kg. Bila dibandingkan dengan penghasilan nelayan yang menggunakan alat tangkap ramah lingkungan seperti pukat, pancing, dan panah, penghasilan alat tangkap bom ikan jauh lebih besar. Ini berarti sekali menggunakan bom ikan maka setara dengan 27 hari menggunakan pukat, 16 hari menggunakan pancing, dan 10 hari menggunakan panah/tembak. Meskipun jumlah pengguna bom ikan relatif kecil dibandingkan alat tangkap ramah lingkungan. Bom ikan dan kompresor memiliki presentase yang sama yaitu 1,2 % sedangkan pukat, pancing dan panah masing-masing 30.6%, 56.5% dan 8.2%. 

         Perlu Komitmen dan Kesepakatan Baru. Akibat dari aktifitas ini mulai dirasakan hampir sebagian besar masyarakat pesisir di daerah kabupaten Pohuwato. Masyarakat pesisir yang sehari-harinya menjadi nelayan yang berkomitmen menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan misalnya mulai mengakui bahwa hasil yang mereka dapatkan mulai menurun. Kegiatan pengeboman ini bukan hanya membahayakan nelayan tangkap, namun juga dapat mengancam keberadaan lahan budidaya rumput laut di kawasan ini. Bantuan sarana produksi budidaya rumput laut yang diberikan pemerintah setempat bisa jadi gagal dalam mencapai tujuan utamanya: meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir, jika pemerintah tidak serius menangani permasalahan ini.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Pohuwato untuk menghambat laju kerusakan terumbu karang. Tahun 2012 misalnya pemerintah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pohuwato telah menginisiasi program penyelamatan terumbu karang diantaranya adalah pemberian bantuan langsung paket lengkap alat tangkap yang ramah lingkungan kepada beberapa nelayan yang telah lama menggunakan alat tangkap yang merusak. MoU antara pemerintah Kabupaten Pohuwato dengan para pelaku penangkapan yang merusak pun telah tertanda tangani, namun hal ini tidak menghentikan laju pengrusakan terumbu karang di perairan Kabupaten Pohuwato. Oleh karena itu, diperlukan komitmen dan serangkaian aksi nyata dari semua pihak untuk bersama-sama memberikan perlindungan bagi upaya pelestarian ekosistrm terumbu karang di Kabupaten Pohuwatu.


Nilmawati dan Baso Hamdani
Tim Destructive Fishing Watch Indonesia (DFW-Indonesia)

0 comments:

Dimensi Kebenaran

23:06 Baso Hamdani 0 Comments

Tatkala disaat kami makan. Saya sempat melamun dan ditegur sama sahabat saya. 
"Antum, kenapa melamun sepertinya ada yang dipikirkan". 
"Iya, saya sepertinya akhir-akhir ini memikirkan sesuatu" balasku.
"Apa itu, akhy" pintanya dengan logat biasa
"Berbuat baik itu susah ya, kalau berbuat salah itu biar semenit. Saat ini saya ingin berbagi ilmu dengan adik-adik di kampus. Hanya saja saya terkendala dengan kondisi di kampus. Entahlah, di lingkungan saya sangat susah, mungkin karena pernah terjadi masalah antara pelajar dengan pendidik. Saya takutnya dikira mendoktrin mahasiswa, belum lagi serba salah dari versi lingkunganku. Saya harus siap salah di mata orang lain karena ada sedikit masalah di kampus" balasku. 
"Saya pernah dapat teguran dari atasan, saat itu saya benar-benar hanya ingin berbagi dengan adik-adik saya di kampus dengan hati yang murni. Tapi di sisi lain saya ditegur bahkan dijadikan imej yang sangat buruk bagi pendidik dan itu diluar kendaliku". Kemudian cerita kami berlanjut, sahabat saya mencoba menenangkan hati saya. Anggap saja ceritanya yang saya tangkap seperti dibawah ini.
Gambar ilustrasi (Sumber: cakka.web.id)
        Sahabat saya menceritakan sebuah alkisah mengenai pandangan benar atau salah. Awal cerita itu dimulai oleh seeokor unta yang ditunggangi oleh dua orang yaitu seorang bapak dan seorang anak serta barang bawaannya. Diperjalan seorang menegurnya 
"kasihan untanya, membawa banyak barang bawaan dan kalian menungganginya". Dengan rasa kasian bapak itu turun dari unta dan membiarkan anak dan barangnya di unta. Lanjut cerita anak di atas unta tersebut ditegur lagi, 
"Durhaka lah seorang anak yang membiarkan orang tuanya berjalan kaki sementara dia keenakan diatas unta. Alhasil, mereka kemudian bergantian. Anak yang jalan dan bapak yang menunggang. Lagi-lagi teguran muncul, 
"apakah kamu tidak kasihan melihat anakmu berjalan kaki sedangkan engkau diatas kuda". Dengan rasa gunda mereka turun dari unta, jadinya anak dan bapak tidak lagi diatas kuda dan hanya barang bawaannya. Tidak sampai bermil perjalanan, mereka kemudian ditegur. 
"Dasar, anak dan bapak sama saja bodohnya".
       Begitulah pandangan atau persepktif orang tentang sesuatu, mereka memiliki hak untuk berbicara dan menegur. namun untuk hal benar tiap orang akan berbeda. Namun, yang salah yang diajarkan seperti mencuri, membunuh dll yang diajarkan agama tetaplah salah. Sepanjang kamu merasa benar maka lakukanlah, asalkan tidak bertentangan dengan agama. Salah satu referensi tentang benar salah juga telah disampaikan  oleh Rasulullah.
Nawwas bin Sam'an r.a. berkata; Nabi saw bersabda:
"Kebajikan adalah akhlak terpuji, sedangkan dosa adalah apa yang meresahkan jiwamu serta engkau tidak suka apabila masalah itu diketahui orang lain." (HR Bukhori)

Buat sahabatku Indon terima kasih atas ceramah singkatnya.



0 comments:

Mencium Laut Melalui Dunia Maya

18:12 Baso Hamdani 0 Comments

Knowledge is of two kinds. We know a subject ourselves, or we know where we can find information upon it. - Dr. Samuel Johnson

Mencium Laut Melalui Dunia Maya - Alamat website bagi mahasiswa kelautan |
        Apakah anda biasa melakukan browsing, kemudian terpaku di depan alamat website bernama Facebook atau Twitter bahkan menghabiskan waktu beberapa jam. Seolah menawarkan menu santapan dengan hasrat lagi dan lagi. Yang pastinya itu terjadi pada beberapa kalangan berstatus pelajar. Kata pelajar, itu akan cenderung ke educated people. Tapi apakah benar bisa sejalan dengan yang kita lakukan dengan hanya bersosmed ria dan bergame ria untuk sekedar membuang waktu. Berselancar di sosmed untuk mencari informasi, refreshkan otak dan menyapa teman sesekali itu hal yang wajar. Namun bila berlebih mungkin seharusnya bisa buat self commitment.

       Terkadang teman-teman bertanya, mengeluh tentang referensi yang terpercaya mulai dari bahan kuliah hingga skripsi. Ada yang mengeluh keterbatasan buku dan lain-lain. Padahal kita bisa download jurnal dan abstrak melalui internet. Untuk anda sekedar membaca dengan referensi terpercaya, penulis menemukan sebuah buku di antara tumpukan buku di perpustakaan. Tapi tenang saya tidak akan menyuruh anda untuk mencari buku tersebut, anda tinggal baca hingga selesai. Berikut adalah alamat website yang telah ditelusuri oleh Edward Reneha, seorang veteran internet, dengan menyeleksi jutaan alamat website kemudian disaring untuk yang terbaik, berguna, akurat (katanya sih, ini menurut sebuah buku, gak percaya telurusuri saja sob) dan ajaibnya kita tinggal arahkan pointer dan copy alamat website dibawah (bukan promosi ya bro) alias menikmati pekerjaan orang lain saja :).

Gambar: salah satu PrtSc website kelautan (sumber: aquanet.com)
Oseanography

  1. Acoustical Oceanography Research group | http://pulson.seos.uvic.ca/
  2. Aquanet | http://www.aquanet.com/
  3. Australian Institute of Marine Science | http://www.aims.gov.au/
  4. Center for Coastal Physical Oceanography | http://www.ccpo.odo.edu/
  5. Coral Reef Allience | http://www.coral.org/
  6. Cousteau Society | http://www.cousteau.org/
  7. Jason Project | http://www.jasonproject.org/
  8. Monterey Bay Aquarium Research Institue | http://www.mbari.org/
  9. NOAACoral Health and Monitoring Program | http://www.coral.aoml.noaa.gov/
  10. NOAA Fisheries Service | http://www.nmfs.noaa.gov/
  11. Ocean Studies Voard of the National Research Council | http://www4.nas.edu/cger/osb.nsf
  12. Ocean Voice International | http://www.ovi.ca/
  13. Oceanographer of the US Navy | http://www.oceanographer.navy.mil/
  14. Scripps Institute of Ocanography | http://www.sio.ucsd.edu/
  15. Smithsonian's Ocean Planet | http://www.seawifs.gsfc.nasa.gov/ocean_planet.html
  16. Woods Hole Oceanographic Institution | http://www.whoi.edu/
Mailing List


  1. The Coral-List Listserver. Sebuah forum mailing list dan  diskusi mengenai terumbu karang. email: majordo@coral.aoml.noaa.gov
  2. Marine_L, The Marine Studies and Information List. Merupakan sebuah forum terbuka untuk diskusi dan pengembangan topik kelautan terkini. email: LISTSERVER@cgc.ns.ca

Newsgroups

  1. bionet.biology.deepsea
  2. sci.bio.fisheries
  3. sci.engr.marine.hydrodynamics
  4. sci.geo.eos
  5. sci.geo.fluids
  6. sci.geo.geology
  7. sci.geo.hydrology
  8. sci.geo.meteorology
  9. sci.geo.oceanography
  10. sci.mech.fluids
  11. sci.physics.computtational.fluid-dynamics
Sebagai tambahan dari penulis berikut website kelautan di Indonesia juga ada bro:
  1. Dewan Kelautan Indonesia | http://www.dekin.kkp.go.id/ Dulunya adalah dewan maritim indonesia. Kebijakan kelautan dan info undang-undang banyak disediakan di web ini.
  2. Kementerian Kelautan dan Perikanan | http://www.kkp.go.id/. Di website ini kamu bisa download banyak journal kelautan dan buku kelautan secara gratis. Yang pastinya ini dibuat dari kementerian. 
  3. Destructive Fishing Watch | http://dfw.or.id/. Berselancar di halaman ini akan mengembangkan wawasan tentang isu-isu kelautan. Kelebihan dari website ini, update-an artikelnya langsung dari lapangan. Beberapa berita berkualitas yang mungkin tidak sempat kita pikirkan apa yang terjadi di luar sana. Plus ada banyak pula referensi yang bisa di download langsung
  4. Coral Triangle Initiative | http://www.coraltriangleinitiative.org/ Di website ini menampilkan informasi kerjasama dengan negara pembentuk CTI termasuk Indonesia. Kalian juga bisa download buku-buku dan journal
  5. Coral Reef Rehabilitation and Management Program (Coremap) | http://www.coremap.or.id/. Informasi yang ditampilkan seputar kebijakan dan strategi konservasi karang. Ada perpustakaan online juga bro. Download sekalian.

Nah, sudah ada alamatnya kan. Selebihnya kembali ke diri anda untuk budaya membaca. Mari Membaca. Semoga bermanfaat dan selamat menikmati santapan ilmunya...


Reference:
Renehan, Edward. 2000. Guide to Science Internet, an internet travel guide. New York: Scientific American

0 comments:

Kunjungan Abdi di Putih-Abu-Abu

05:53 Baso Hamdani 0 Comments

basohamdani.com - Kunjungan Abdi di Putih-Abu-Abu | Mata ini belum terbuka begitu jelas, bantal terus menggoda untuk saya peluk. Dinding kamar beserta pasangan serasinya jam dinding, menunjukkan jam 4 subuh. Kondisi ini harus saya lawan mengingat saya harus pulang kampung untuk mengajar di my beloved school "Smaper". Dalam waktu yang sama pula, saya sahur ala speed boat. Acara makannya sekilas mengilas. Janji sama sopir Panther (read: istilah untuk mobil angkutan antar kabupaten) sudah saya layangkan untuk saya tumpangi mobilnya dan ucapan janji untuk junior SMA saya untuk mengajar bahasa inggris selama 3 hari di sekolah. Untuk kali ini acara pulkam saya tidak menunggangi matic andalanku. 
Suasana Mengajar di Kelas
        Mandi, sahur, baca buku, browsing, menulis, menggambar, dengar lagu.... sudah dua jam bergeser dari jam 4.00 am ku lakukan kegiatan tersebut namun tunggangan besi panther belum juga muncul. Kulayangkan kembali sms untuk mengingatkan si sopir yang dari tadi memberitahu bahwa posisinya yang sudah dekat. Saya pun kembali pada peraduan ilmu, membaca buku. Setelah itu sopir pun datang dan langsung meluncur perjalanan menuju kampung halaman. 
Peserta Ospec
        Singkat cerita, saya sudah sampai dan keesokan harinya baru mulai mengajar disebabkan karena saya

tiba terlambat dan tidak cukup banyak waktu. Kelas di mulai pada pukul 08:00 am di Mushalla Smaper. Ternyata pesertanya banyak yaitu sekitar 50 orang siswa dan saya harus sendiri mengajar. Waktu yang terbatas harus saya kondisikan. Artinya saya harus ada ide dan perencanaan yang bagus untuk memulai kelas. Pada awal kelas, saya memberikan motivasi karena mempelajari bahasa ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Mudah-mudahan motivasi yang saya sampaikan dipahami oleh peserta.


Aktivitas Games
       Selasa tgl 8 Juni 2014, merupakan hari kedua English Camp namanya Ospec. . Saya kira English Camp yang dilaksanakan adalah rangkaian orientasi siswa karena dari judulnya Ospec. Ternyata kepanjangannya Organization of Smaper English Camp alias Ospec. Oooo... (katanya nak alay, Ooo.. pale sikatoang Istilah aneh yang pernah saya dengar). Hari itu saya mengajar grammar termasuk tenses,  di jam istirahat saya memanfaatkan buat siswa yang mau mengisi waktu belajar dengan cara mengeja dan membaca. Bahkan batas mengajar sampai jam 12 saya perpanjang hingga jam 3 sore. 

Suasana Lomba
         Hari terakhir, berhubung tgl 9 juni 2014 acara pemilu dilaksanakan disamping rumah dan panitia juga termasuk kakak saya jadi saya bantu-bantu dulu persiapannya dan setalah itu mencoblos calon presiden. Sekitar jam 2 sore baru kelas bahasa inggris di mulai. Sore itu saya masih melanjutkan pembahasan tenses yang cukup panjang. Di sela mengajar terkadang dilakukan beberapa games baik dari saya maupun dari panitia. Dilakukan pula beberapa lomba seperti lomba Marching Drill, pelafalan dan pengejaan, dan yel-yel. Di hari terakhir ini pula dilakukan buka puasa bersama setelah acara penutupan. Alhamdulillah saya bisa berbuka puasa dengan guru-guru SMAku dulu yang kebetulan diundang dalam acara ini. Saya pun kemudian melanjutkan langkahku ke rumah guruku yang tinggal di perumahan guru maupun di luar sekolah. Sejenak mengenang kembali masa putih abu-abu dulu yang sering bermalam untuk belajar, diskusi dan berbagi ilmu bersama sahabat seperjuanganku Oiya termasuk latihan bela diri tengah malam sampai subuh. Semuanya terbungkus rapi dalam satu ingatan. Sayangnya waktu saya hanya sedikit. Bahkan waktu ini selam 3 hari merupakan waktu terlama yang pernah saya lakukan untuk berbagi dengan adik-adik di sekolah. Biasanya hanya satu atau dua hari.
        Dengan selesainya acara ini saya berterima kasih kepada panitia Ospek karena telah mewadahi saya. Walaupun hanya sendiri teacher  dari luar, selebihnya dari mereka sendiri. Yang saya suka dari mereka adalah keinginannya untuk belajar. Lama sudah ingin saya berbagi ilmu dan pengalaman bahasa inggris kepada adik-adik namun baru tercapai berkat kerjasama panitia. Hal ini saya lakukan sebagai ucapan terima kasih kepada guru favoritku pak hasan dan guru lainnya yang telah mengajari dan membimbing saya dahulu waktu masa SMA. Maka dari itu kewajiban saya untuk membalas kewajiban beliau. Saya sadar ini masih jauh dari kesempurnaan, insya Allah pengabdian itu akan terus saya lanjutkan untuk SMAku. Sampai jumpa lagi adik-adik....

0 comments:

Pencarian hingga titik mata air terakhir (Sawanobori)

19:07 Baso Hamdani 0 Comments

basohamdani.com - Pencarian hingga titik mata air terakhir (Sawanobori).| Bila pendakian yang biasanya dilakukan oleh sebagian orang melewati barisan bukit hingga ke puncak gunung. Maka beda halnya dengan orang Jepang tempoe doeloe.
Sawanobori bersama Mahasiswa Jepang
       Secara geografis negeri matahari terbit ini 70% adalah pegunungan. Wajar saja bila mereka harus naik turun gunung dan harus melewatinya. Sehingga mereka berpikir supaya ada cara yang lebih muda. Sekitar 150 tahun yang lalu, seorang bernama Kanmuri Matsujiro melakukan pendakian sebagai kegiatan olahraga. Dia melakukan pendakian melalui sungai hanya untuk bersenang-senang. Kanmuri berjalan dengan menggunakan Waraji yaitu semacam sandal yang terbuat dari jerami. Banyaknya orang Jepang mengikuti kebiasaan ini jawabannya adalah melakukan sawanobori. Apa itu sawanobori?
Gunung Ishizutchi, Shikoku, Jepang
        Sawanobori berasal dari bahasa Jepang. Sawa artinya sungai, dan nobori berasal dari kata noboru yang berarti mendaki atau dalam bahasa inggrisnya River Climbing. Jadi Sawanobori adalah mendaki gunung dengan menyelusuri sungai. Kelebihannya adalah tidak harus naik turun bukit, pendakian ini  betul-betul hanya mendaki. Biasanya mereka memilih sungai-sungai yang mudah namun akhir-akhir ini sawanobori sudah dianggap sebagai salah satu cabang petualangan di Jepang. Para petualang memilih sungai-sungai dengan medan yang sulit.
Medan Pemanjatan
         Tahun 2013 kemarin saya dan teman-teman saya dari Jepang melakukan sawanobori di pegunungan Lompo Battang. Kami berempat mereka adalah sato, ken dan obhu. Ini bukan kali pertama sih kami melakukan Sawanobori cuma memang saya kurang tau jenis petualangan ini dan urang pengalaman. Entry point kami di Bulukumba. Menyelusuri sungai pada awalnya memang muda tetapi semakin jauh dan tinggi semakin sulit. Sungai semakin menanjak dengan air terjun yang tinggi dan bertangga-tangga.
         Selama 3 hari kami tidak merasakan panas matahari karena selalu di lembah. Pembuatan api juga sangat lah susah karena lembab serta suhu yang dingin dan kurangnya tempat yang aman untuk ngecamp. Yang terpenting juga adalah semua barang harus dikemas baik-baik agar tahan air, karena ada kalanya kita berenang memakai ransel di sungai atau untuk bereuphoria melompat dari air terjun tapi dengan berbagai pertimbanganya, biasanya sih kalau sudah perjalanan balik, kan dah tau tuh medannya gimana.  Untuk alas kaki kami memakai sepatu khusus Sawanobori dari Jepang namanuya Sawakabi. Sepatu ini bentuknya seperti sepatu ninja yang memiliki anti licin di bagian sol. Saya dan sato hanya sekali-kali melakukan pemanjatan. Sedangkan ken dan obhu adalah pemanjat yang selalu membuka jalur. Jangan salah yang memacu adrenalin juga adalah ketika harus melipir di lembah dengan kemiringan mencapai delapan puluh derajat dan pegangan yang licin oleh tumbuhan tropis.
           Dari pengalaman saya saat ini Sawanobori merupakan jenis petualangan kedua yang sangat memacu adrenalin setelah petualangan di vertical cave 200an meter. Hari demi hari kami menyelusuri sungai, debit airnya pun semakin kecil dan bercabang namun kami tetap fokus pada aliran utama. Tujuan kami hingga terakhir pun usai karena pada hari ke-empat yaitu hari terakhir dan akan masuk masa toleransi besoknya. Melihat kondisi yang tidak memungkinkan dengan tali yang tidak cukup, perhitungan hari toleransi serta tingginya medan. Kami seolah berada di sumur yang dalam tingginya sekitar 70 meteran. Akhirnya hari ke-empat kami memutuskan untuk kembali. Semoga tahun ini (2014) bisa melanjutkan kembali langkah kami tersebut. Salam lestari...
Last Point

0 comments:

SUIJI Program Experience 2012

07:54 Baso Hamdani 0 Comments

basohamdani.com - SUIJI Program Experience 2012 | Ada kalanya ketika bertekad dengan sebuah impian yang telah terpatri dalam diri akan menjadi kenyataan bila Tuhan menghendaki. Awalnya saya bermimpi untuk menginjakkan kaki di negeri sakura dan negeri kangguru sejak masih SMP. Alhamdulillah berkat usaha yang keras bisa menyelesaikan impian itu pada masa mahasiswa. Semoga tulisan ini juga bisa menginspirasi teman-teman untuk meraih kesempatan emas di Jepang dan inilah salah satu pintu gerbangnya yaitu SUIJI. 
Penulis di Ehime University
       Six University Initiative Japan - Indonesia (SUIJI) adalah kerjasama enam universitas masing masing 3 dari universitas yang ada di Indonesia yaitu Universitas Hasanuddin, Universitas Gadjah Mada, dan Institut Pertanian Bogor sedangkan dari Jepang yaitu Ehime University, Kagawa University, dan Kochi University. Kerjasama ini sudah dilakukan dari tahun 2011. Kerjasama itu berupa Service Learning Program (SLP) untuk tingkat mahasiswa S1 dan Joint Degree Program Master Course (JDP-Mc) untuk tingkat S2. Kerjasama ini fokus bidang Suistainable Tropical Agriculture. (Sumber: leaflet konsorsium SUIJI di Bogor, 2014)
"Sosialisasi di SMK" KKN di Malangke, Palopo
        Salah satu program yang saya ikuti adalah kerangka kerja SUIJI dalam membangun sinergis Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Indonesia dan Service Learning Program (SLP) di Jepang atau dengan kata yang biasa kita sebut KKN Internasional. Persamaan dari program tersebut adalah sama-sama Student Service hanya saja di Jepang hal tersebut masih baru diterapkan dan dalam durasi waktu yang pendek sekitar 3 minggu. Dalam program saya tepatnya pada tahun 2012 berjalan selama 1 semester. Kami melaksanakan KKN di Indonesia di beberapa tempat seperti di Palopo, Bantaeng, Takalar, Jeneponto dan Kepulauan Spermonde. Banyaknya tempat yang kami jadikan sebagai tempat KKN benar-benar mendapat pengalaman luar biasa mulai dari pegunungan hingga lautan. Program yang kami lakukan berbeda-beda seperti pengajaran di sekolah-sekolah, sosialisasi, penanaman sagu, destilasi air, pengumpulan data dan lain-lain . Program kami dilaksanakan dengan berkolaborasi dengan mahasiswa Jepang selama 3 bulan. 
       Study Tour satu bulan selanjutnya kami melaksanakan SLP di pedesaan. Namun yang kami rasakan lebih beda sedikit, kami memang membantu masyarakat di Jepang namun kami banyak belajar juga. Misalkan saja kami belajar di perusahaan-perusahaan yang berbasis di desa dan mempelajari banyak hal dengan jadwal agenda yang padat.
Kapal Cinta Laut, KKN spermonde
Desain kolaborasi KKN dan SLP menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa yang berbeda negara. Misalkan saja mahasiswa Jepang yang datang di Indonesia yang tergabung dalam program ini akan menerapkan prinsip KKN. Sedangkan kami mahasiswa Indonesia menerapkan sistem SLP di Jepang. Setelah selesai KKN di Indonesia kami melanjutkan SLP di Jepang selama 2 bulan. Di bulan pertama kami mengisi waktu untuk belajar tentang Jepang, Kuliah, dan
Suasana Perkuliahan
     
Sahabat di Jepang, Gunung bersalju menjadi sarana kedekatan kami
         Setelah semua terselesaikan dengan keringat yang luar biasa mengucur selama 5 bulan yaitu 3 bulan di Indonesia dan 2 bulan di Jepang pada akhir sesi kami di berikan kesempatan menikmati kota-kota populer yang ada di Jepang dengan berbagai sarana hiburan yang asyik. Ini dia perjalan kami selama KKN -SLP International : Palopo-Takalar-Jeneponto-Bantaeng-Kepulauan Spermonde-Ehime-Kochi-Kagawa-Kyoto-Nara-Osaka. Setelah kegiatan ini kami masih diberi kesempatan untuk menghadiri undangan konsorsium SUIJI di Jakarta-Tangerang-Bogor.
Konsorsium SUIJI di Bogor

Jadi semoga informasi dan pengalaman saya bisa bermanfaat sekaligus menjadi motivasi bagi pembaca termasuk adik-adik yang akan mengikuti seleksi program ini. Program ini sama dengan Pertukaran Pelajar... GOood LuUUcck

0 comments: