The Boundary Edition (Indonesia-Malaysia) II = Poor of Fuel, Rich of Price

          As archipelago country, Indonesia need transportation for land, sea and air. Transportation use fuel to operate. Several regions have the same problem about fuel. People will be difficult to obtain fuel such as gasoline. Sometimes, TV shows news about the difficult to gain gasoline in Java and make queue for several hours. This case only come after several times in a year. Visiting Nunukan, North Kalimantan, we will find many cars and motorcycle in queue and it is usual phenomenon. The worst of this is always occur in every day.
Cars view in front of Fuel Station
         Subsidy fuel management in Nunukan look very disorganized. This thing had occurred as a result of many business fuel abuse. According to the citizen information, several fuel agency cooperate with fuel retailer. The benefit of the cooperation is high price for getting high income.This process starts from the fuel agency who sell their fuel to the retailer, because retailer want to buy the fuel in high price. Then, the retailer re-sell the fuel to the people. For example, gasoline in normal price is Rp. 6.500/ litre and then it change in Rp. 10.000/ litre. Moreover, retailer through the road sell the gasoline from Rp.10.000 - Rp. 20.000.    
          In fuel station, it seems crowded place as a fuel market. There are numerous vehicle and people bring fuel container. It exceeds of fuel quota standard for each vehicle. Several people complain quota of fuel that it was not enough. 
         Society expect about this classic problem to be resolved by cooperation in each stake holder even they hope to the student in university to do demonstration about this case.
         The question is when the fuel was gone, what happen in this country?. Let see in the future. Whether biofuel or other alternatives can answer the question. 
       

The Boundary Edition (Indonesia - Malaysia) I: Moslem New Year Celebration 1436 H.

        Boundary area tend to be affected or affect both economic and culture. Immigrants  of indonesian ethnics such as Buginese, Javanese and Nusa Tenggara contibute to the culture diversity on Nunukan Island and Sebatik Island. The effect is like symbiosis. Mixing culture of Melayu can find in boundary land of Sebatik, Indonesia with Sebatik, Malaysia. Sebatik is an island that divided in two countries. Sebatik is include as part of Nunukan district.
        At the night of new year, moslem new year (1 Muharram 1436 H/25 Oktober 2014 M) was celebrated by crowded activity . Melayu atmosphere was felt to celebrate for all of activities in Nunukan City. Some activities that people did are parade for each village of Nunukan and Reog Ponorogo Performance. Here they are the gallery:

People inf front of Tugu Dwikora
Tugu Dwikora



Parade

Parade


Parade

Parade
Parade

Parade

Merumuskan Agenda Perlindungan Laut Pohuwato “Selamatkan Laut Pohuwato”

Berangkat dari Potensi Besar. Kabupaten Pohuwato termasuk dalam kawasan Teluk Tomini, yang kaya akan sumber daya alam laut dan pesisir. Teluk Tomini dikenal dengan sebutan “heart of Coral Triangle”.  Hal ini disebabkan karena Teluk Tomini memiliki kekayaan biodiversitas laut yang paling tinggi dibandingkan daerah lainnya di segitiga terumbu karang dunia. Wallace dkk di tahun 2000 menemukan keanekaragaman karang dari species staghorn corals (Acropora spp.) dan menyimpulkan bahwa Teluk Tomini menyimpan kekayaan alam laut yang luar biasa, sehingga predikat “center of diversity” pun di berikannya. Jenis ikan karang juga ditemukan sangat tinggi di perairan ini. Survey di tahun 2007 menemukan bahwa kurang lebih 819 species ikan karang berada di teluk ini. Kekayaan sumber daya alam laut dan pesisir yang dimiliki oleh Kabupaten Pohuwato ini yang kemudian menjadikan kawasan ini sebagai salah satu tumpuan bagi ketahanan pangan hampir lebih dari 142.066 jiwa. Hal ini yang menjadi salah satu alasan pemerintah pusat untuk menyelenggarakan Sail Tomini Tahun 2015 yang bertujuan untuk mempromosikan potensi pariwisata di Teluk Tomini.
        Maraknya Aktivitas Merusak. Namun, kondisi kekayaan sumber daya wilayah pesisir dan laut yang dimiliki kabupaten Pohuwato mulai terancam. Data hasil pemantauan dan pengawasan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pohuwatu tahun 2012 menunjukkan bahwa aktivitas penangkapan ikan yang merusak dengan menggunakan bom ikan dan racun/sianida banyak terjadi di kawasan ini. Walaupun alat tangkap yang merusak ini sangat berbahaya bagi kesehatan tetapi juga mampu menyebabkan kematian bagi penggunanya serta tergolong illegal, namun keterbatasan ekonomi, kurangnya pendidikan serta minimnya mata pencaharian alternatif di daerah ini membuat banyak warga bekerja sebagai nelayan yang menggunakan alat tangkap yang merusak.  Aktivitas yang masih sering terjadi hingga sekarang ini adalah fakta nyata yang bukan hanya merusak sumber daya alam dikawasan ini namun juga mengancam ketersediaan pangan bagi warga Kabupaten Pohuwato.





Dari hasil pengamatan selama di lapangan, alat tangkap yang tidak ramah lingkungan menjadi kontributor rusaknya karang dan memiliki hasil penangkapan yang paling banyak seperti bom ikan (700 kg utk 3 orang) dan kompresor (200kg untuk 3 orang).


Bom ikan memiliki penghasilan rata-rata per hari yaitu 700 kg. Bila dibandingkan dengan penghasilan nelayan yang menggunakan alat tangkap ramah lingkungan seperti pukat, pancing, dan panah, penghasilan alat tangkap bom ikan jauh lebih besar. Ini berarti sekali menggunakan bom ikan maka setara dengan 27 hari menggunakan pukat, 16 hari menggunakan pancing, dan 10 hari menggunakan panah/tembak. Meskipun jumlah pengguna bom ikan relatif kecil dibandingkan alat tangkap ramah lingkungan. Bom ikan dan kompresor memiliki presentase yang sama yaitu 1,2 % sedangkan pukat, pancing dan panah masing-masing 30.6%, 56.5% dan 8.2%. 

         Perlu Komitmen dan Kesepakatan Baru. Akibat dari aktifitas ini mulai dirasakan hampir sebagian besar masyarakat pesisir di daerah kabupaten Pohuwato. Masyarakat pesisir yang sehari-harinya menjadi nelayan yang berkomitmen menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan misalnya mulai mengakui bahwa hasil yang mereka dapatkan mulai menurun. Kegiatan pengeboman ini bukan hanya membahayakan nelayan tangkap, namun juga dapat mengancam keberadaan lahan budidaya rumput laut di kawasan ini. Bantuan sarana produksi budidaya rumput laut yang diberikan pemerintah setempat bisa jadi gagal dalam mencapai tujuan utamanya: meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir, jika pemerintah tidak serius menangani permasalahan ini.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Pohuwato untuk menghambat laju kerusakan terumbu karang. Tahun 2012 misalnya pemerintah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pohuwato telah menginisiasi program penyelamatan terumbu karang diantaranya adalah pemberian bantuan langsung paket lengkap alat tangkap yang ramah lingkungan kepada beberapa nelayan yang telah lama menggunakan alat tangkap yang merusak. MoU antara pemerintah Kabupaten Pohuwato dengan para pelaku penangkapan yang merusak pun telah tertanda tangani, namun hal ini tidak menghentikan laju pengrusakan terumbu karang di perairan Kabupaten Pohuwato. Oleh karena itu, diperlukan komitmen dan serangkaian aksi nyata dari semua pihak untuk bersama-sama memberikan perlindungan bagi upaya pelestarian ekosistrm terumbu karang di Kabupaten Pohuwatu.


Nilmawati dan Baso Hamdani
Tim Destructive Fishing Watch Indonesia (DFW-Indonesia)